‘Another Door’ Movie Review

Bingung review ini tentang apa? Tonton film nya disini!

Film berjudul ‘Another Door’ adalah karya nyentrik dari tim produksi berumur jagung bernama Kooan Production (@kooan.production). Mengusut genre thriller namun bertujuan mengkritik tekanan sosial kepada kaum hawa di Indonesia, film seperti ini tidak setiap hari bisa ditemui dengan mudah.

Sutradara film ini menyatakan bahwa film ini dibuat untuk mengkritik norma-norma masyarakat yang penuh ekspektasi tidak realistis untuk kaum wanita. Hal ini agak berbeda dengan materi promosi pra-produksi yang menyatakan bahwa film ini merupakan kampanye anti-bullying. Setelah menonton film tersebut, saya yakin bahwa visi utama tentang bullying sudah dihilangkan sepenuhnya karena film ini tidak ada kaitannya dengan bullying sama sekali.

Meskipun alur cerita di film ini cenderung tidak tertebak (saya gagal menebak endingnya seperti apa), saya menemukan sebuah episode drama Korea yang mirip dengan alur cerita film ini. Saya tidak bisa berkomentar apakah film ini terinspirasi dengan drama Korea horror tersebut atau memang mengadaptasi alur ceritanya secara langsung. Keduanya memiliki unsur mistis, perubahan fisik, serta menggunakan pisau sebagai alegori.

Film ini tidak proporsional dalam membangun setting, mengenalkan konflik, dan menutup dengan resolusi. 20 menit pertama dihabiskan hanya untuk mengenalkan karakter-karakter yang tidak berarti ketika film ini berakhir. Karakter-karakter di 20 menit pertama tersebut semua memiliki peran yang sama yaitu membuat tekanan kepada sang pemeran utama.

Konflik hadir dalam durasi yang sangat singkat dengan penyajian timelapse sehingga penonton kurang bisa bersimpati terhadap pemeran utama yang sebenarnya sedang menghadapi konflik dengan dirinya sendiri. Harusnya, durasi pengenalan sebagian bisa dialokasikan kedalam pembangunan konflik disini, mungkin dalam wujud flashback atau ‘suara di kepala’ yang terngiang-ngiang di pikiran pemeran utama.

Untuk resolusi, 5 menit sebenarnya cukup untuk mengakhiri sebuah film singkat seperti ini, namun saya menyayangkan bahwa ada karakter-karakter yang tidak diberi closure di ending-nya, padahal karakter-karakter tersebut berperan membangun setting di awal film. Saya kira hal ini berkaitan dengan waktu tayang yang dibatasi hanya 20 menit, karena sepertinya film ini dibuat untuk memenuhi kriteria mengikuti perlombaan festival film.

Permasalahan utama di film ini adalah kualitas teknisnya yang terlalu rendah untuk ukuran film budget sekalipun. Dialog dilakukan secara dubbing (isi suara) sehingga banyak dialog yang kelihatan tidak nyambung dengan gerakan bibir pemainnya. Saya tidak tahu kenapa tim produksi tidak memilih untuk menggunakan live audio. Keterbatasan peralatan? Mungkin, namun mic untuk produksi kecil seperti ini tidaklah mahal dan bisa menjadi investasi mereka untuk produksi mendatang.

Dari segi acting dan casting tidak ada masalah yang signifikan. Satu hal yang saya sayangkan adalah dipaksakannya penggunaan bahasa Inggris dalam seluruh dialog di film ini. Meskipun seluruh jajaran pemain fasih dalam menggunakan bahasa Inggris aktif, serta penulisan naskah menggunakan grammar yang sempurna, namun tetap saja namanya orang Indonesia sulit mengucapkan dialog bahasa Inggris secara natural, apalagi didepan kamera dan lawan bicaranya adalah orang Indonesia juga. Akibatnya, menurut saya, akting yang keluar dari setiap pemain bukanlah potensi maksimal mereka, karena mereka fokusnya terganggu untuk memastikan pengucapan dialog mereka benar. Tentu saja hal ini termitigasi dengan adanya sesi dubbing sehingga dialog yang terucap bukanlah live. Tapi hal ini tentu memunculkan masalah baru: Dalam sesi dubbing, pemain harus mengikuti logat, intonasi, tempo, jeda yang sama persis seperti gerakan bibir mereka ketika perekaman gambar, dan hal ini belum tentu berhasil! Kesulitan utama dubbing adalah mereplika dialog anda persis ketika perekaman gambar dilakukan, dan ini akan semakin sulit bila anda harus mengikuti diri anda mengucapkan sesuatu yang bahkan anda sendiri tidak kuasai (dalam istilah akademis, anda harus membuat ulang output acak/random yang bahkan anda tidak tahu berasal dari variabel apa saja)

Selain itu, film ini juga tidak mendapatkan momentum apapun ketika sudah dirilis. Sebagai lulusan bisnis, saya benar-benar menyalahkan siapapun yang bertanggungjawab dalam marketing film ini. Tidak ada kampanye viral atau gerakan sosial media yang membantu membangun antisipasi untuk film ini. Padahal kampanye tersebut tidaklah sulit dan mahal. Misalnya, bisa saja membuat poster setiap pemain supaya mereka bisa memajang poster tersebut di sosial media atau messenger mereka, sehingga menambah exposure film ini terhadap lingkaran pertemanan pemain-pemainnya.

Sebagai produksi yang masih berumur jagung, saya rasa juga masuk akal apabila Kooan seharusnya bekerjasama untuk melakukan promosi secara simbiosis mutualisme dengan pihak lain tanpa mengharapkan imbal balik apapun. Misalnya, ada majalah yang dipromosikan di salah satu scene, dan majalah tersebut di dunia nyata mempromosikan Kooan sebagai imbal balik tanpa perlu ada pihak yang menerima pembayaran tunai. Sejauh saya lihat, kerjasama promosi memerlukan kontribusi nyata dari pihak ketiga seperti konsumsi, tempat (space), ataupun uang tunai. Wajar tidak banyak pihak yang turut mensponsori film ini.

Sedangkan untuk hal terbaik di film ini adalah soundtrack nya. Kalau tadi saya mengeluhkan kualitas dialog karena hasil dubbing, justru sountrack film ini sangat bagus dari segi teknis rekaman maupun artistik. Semua peserta screening perdana juga turut memuji lagu OST film ini yang sebenarnya dinyanyikan dan dibuat oleh orang-orang Kooan Production sendiri.

Dengan semua kekurangan tersebut, saya ragu bahwa film ini akan mendapat kesempatan untuk dilirik sponsor di masa depan ataupun menang di festival film, kecuali dilakukan reshoot dan perbaikan kualitas audio. Namun saya bukan ahli film, saya bisa saja salah (dan semoga saja saya salah). Saya terus terang berharap bahwa film ini bisa menjadi awal dari sebuah universe dimana film-film selanjutnya berkaitan dengan film ini, seperti Marvel ataupun Star Wars. Di judul film ini tertulis “Case #111” yang menandakan bahwa ada kasus-kasus lainnya yang mungkin akan dieksplor di film-film mendatang buatan Kooan Production.

Akhir kata, saya berpendapat bahwa film ini adalah ide brilian yang dieksekusi secara tidak matang, sehingga hasilnya tidak maksimal. Untuk saya, sangat kelihatan bahwa tim Kooan mengerjakan film ini dengan setengah hati dan tidak sungguh-sungguh. Namun mungkin saja hal tersebut hanyalah pendapat saya. Mungkin saja mereka memang dicekik keterbatasan waktu, tenaga, dan uang.

Kedepannya, saya berharap Kooan Production bisa lebih berkomitmen untuk melakukan investasi jangka panjang terhadap peralatan rekaman mereka serta usaha promosi yang tidak setengah hati. Karena dalam setiap kegiatan usaha, hasil yang kita terima tergantung pada investasi awal. Untuk mendapatkan keuntungan besar, harus ada juga pengorbanan dan resiko yang besar. Itu hukum alam.

Catatan: Saya adalah pemain yang tidak dibayar di film singkat ini. Saya berusaha untuk menulis ulasan ini se-objektif mungkin, namun mungkin ada unsur bias didalamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.