Strategi Investasi Saat Pandemi COVID-19

Strategi Investasi Saat Pandemi COVID-19

Sepatah Kata

Sebenarnya masalah kesehatan harusnya tidak berpengaruh banyak pada investasi, namun ketika terjadi pandemi seperti ini, ekonomi pun kena dampaknya. Dan karena investasi berelasi kuat dengan ekonomi, maka investasi pun ikutan lemas kalau ekonomi lemas.

Ditengah isolasi diri dengan investasi yang sunyi, sejauh ini saya menghibur diri dengan melihat satu-satunya dampak ‘baik’ yang dibawa oleh wabah Corona ini, yaitu transformasi digital yang sebelumnya tidak pernah berhasil mempenetrasi Indonesia:

  • Pembelajaran jarak jauh menjadi diadopsi luas. Sebagai lulusan Australia yang tidak pernah hadir ke kelas dan tetap lulus cum laude, sebenarnya saya sudah lama mengharapkan hal ini terjadi di Indonesia, karena bisa mengurangi masalah kemacetan di Indonesia
  • Kolaborasi digital juga disadari sebagian besar kegiatan usaha. Perusahaan saya sendiri sudah lama mengadopsi kultur serba digital, dan saya senang melihat perusahaan lain ‘dipaksa’ melakukannya juga. Sekali lagi, ini bisa mengurangi masalah kemacetan di Indonesia.
  • Tumbuhnya budaya ‘tidak harus ketemuan’ di Indonesia, yang notabene sangat ketimuran dan segala sesuatunya, dari ngobrol sampai negosiasi kontrak harus selalu tatap muka.
  • Adanya alasan untuk menunda pernikahan saya sehingga masih dapat angpao tahun depan.

Yap, bacotan saya sudah selesai, sekarang yuk bahas investasi.

Deposito / Uang Tunai

Disaat penuh ketidakpastian seperti ini, prinsip “cash is king” atau “uang adalah segalanya” rasanya sangat relevan. Retur deposito yang sebenarnya sangat kecil, dan malah makin kecil lagi, bisa jadi memberikan kita lebih banyak keuntungan dibandingkan aset investasi lain yang sedang berjatuhan.

Kekuatan utama uang tunai sebenarnya terletak di fleksibilitas. Anda bisa mengubah uang tunai anda menjadi aset lain investasi tanpa harus melakukan cutloss terlebih dahulu. Sebaliknya aset lain yang nilainya sedang berjatuhan tidak bisa langsung ‘dicairkan’ tanpa merealisasikan kerugian.

Berbahagialah mereka yang masih memiliki cukup banyak uang tunai di saat ini, karena mereka bisa melakukan apapun. Belanja saham yang sedang murah, nambah polis asuransi, ataupun tidak melakukan apa-apa, sama-sama tidak menghasilkan kerugian apapun.

Jika anda sedang dalam posisi kurang cash, mungkin lebih baik menunggu situasi lebih baik lagi sebelum terjun ke lebih banyak investasi (menghindari risiko). Tidak baik juga menjual instrumen lain yang dalam posisi rugi hanya demi menambahkan persentase cash anda.

Strategi saya terhadap cash adalah dengan masuk ke aset-aset yang sedang berjatuhan (memanfaatkan risiko) alias malah ‘buang’ uang.

Apabila anda ingin menggunakan strategi ‘diam’ (menghindari risiko), cukup buka saja deposito di bank favorit anda. Tapi untuk retur maksimal, saya sarankan di tabungan Sinarmas (bunga s/d 6% per tahun) dan Bank BRI Agro (juga s/d 6% per tahun). Keduanya memang bank buku 2 yang tergolong kecil dan ‘tidak terlalu kuat’, namun kita perlu melihat kekuatan grup yang menahan kedua bank tersebut. Itu alasannya saya mempercayakan mereka untuk memberikan retur tinggi dengan keamanan yang cukup terjamin. Selain itu karena merupakan produk tabungan maka kita tidak terkunci tenor seperti deposito, sehingga lebih fleksibel jika uangnya mau kita pakai.

Sedangkan untuk bank bank besar kebanyakan menurunkan bunga deposito, karena jelas mereka mengurangi jumlah ‘disburse’ pinjaman. Tidak banyak orang yang meminjam dana disaat seperti ini, dan bank juga lebih berhati-hati dalam memberikan pinjaman.

Saham

Saham bisa dibilang instrumen yang paling terjun bebas akibat serangan Corona ini. Namun apabila kita menggunakan prinsip ‘value investing’, sebenarnya saat ini merupakan saat terbaik untuk ‘belanja saham murah’. Saya sendiri sebelumnya sudah melihat akan terjadinya resesi di tahun 2020 ini, namun tidak menyangka penyebabnya adalah sebuah virus. Sehingga saya jauh-jauh hari sudah mempersiapkan dana khusus untuk belanja saham disaat seperti ini.

Saya bukan ahli saham dan tidak mau banyak berteori, namun semua ahli sepakat bahwa kejatuhan massal seperti ini akan diakhiri oleh pemulihan massal juga, meskipun kita tidak tahu kapan pemulihan tersebut akan terjadi. Yang paling akan cepat pulih adalah saham-saham blue chips yang menjadi sasaran investor asing, jadi itulah yang harus masuk daftar belanja anda. Untuk saham small cap mid cap bisa menyusul ketika pasar sudah pulih, karena bandar akan mulai menggoreng lagi saat situasi sudah kondusif.

Tentu pandangan saya pasti akan berbeda jauh dengan metode trading yang memberlakukan cutloss, dan saya persilakan anda sendiri yang menentukan metode mana yang lebih cocok untuk anda. Saya dulu merupakan seorang pemuja technical analysis sebelum ‘bertobat’ karena sadar bahwa technical analysis kurang sesuai dengan kaidah investasi Kristiani (mungkin tidak sesuai kaidah syariah juga, tapi saya tidak bisa mendakwah disini). Makanya KSEI sendiri punya slogan ‘YUK NABUNG SAHAM’, bukan ‘YUK MAIN SAHAM’, karena lebih baik saham itu ditabung, bukan dimainkan. Pak Adrian Maulana pun pernah menyampaikan di sebuah seminar bahwa ia setuju dengan pernyataan tersebut.

Strategi saya dengan saham adalah dengan metode average down alias tebak bawah, yakni mencicil saham blue chip setiap kali harganya turun, serta melakukan take profit dalam waktu singkat apabila sudah untung diatas persen tertentu

Surat Berharga / Obligasi

Obligasi harusnya menjadi investasi yang cukup aman karena fluktuasinya tidak volatil, namun belakangan ini reksadana dengan komposisi obligasi terus menerus berjatuhan nilainya. Kita harus membedakan obligasi menjadi dua jenis karena dampak COVID19 berbeda tergantung jenis obligasinya

Surat Berharga Ritel / Obligasi Ritel

Ini adalah instrumen investasi yang menurut saya cukup menang saat ini, karena untuk seri SBR-ST memiliki floating with floor dan dijamin nilai pokoknya tidak turun. Sedangkan untuk seri ORI-SR memiliki likuiditas baik dan nilai pokoknya terus naik. Nilai pokok ORI-SR naik karena suku bunga terus diturunkan pemerintah untuk stimulus ekonomi, sehingga retur obligasi yang sebenarnya kecil pun terasa makin besar dan menjadi incaran banyak orang.

Sayangnya, instrumen ini hanya ditawarkan pada waktu tertentu, dan saat tulisan ini rilis tidak ada yang sedang ditawarkan lagi. Apabila di pasar sekunder ada yang menjual kepemilikan Sukuk Ritel (SR) atau Obligasi Retail Indonesia (ORI) mereka, maka menurut saya cukup menarik untuk kita ambil untuk menstabilkan cashflow bulanan kita. Namun menurut pengamatan saya, orang juga cenderung tidak mau melepas kepemilikan obligasi retail mereka. Saya mencoba mencari ORI016 di BINAARTHA Sekuritas dan hanya menemukan sebanyak 9 lembar yang dijual, dengan capital gain 2% per 23 Maret 2019.

Obligasi Pasar Sekunder Lainnya (FR, SUN, dll)

Kalau ini, nilainya terus menerus sedang turun karena dilepas (dijual) terus menerus oleh investor asing. Alasannya karena rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika. Apabila dihitung secara matematika, bila investor asing memegang obligasi negara kita, sekalipun dengan retur yang tinggi, mereka tetap akan rugi karena jika dikonversi ke dolar Amerika nilainya akan jauh lebih rendah.

Kendati demikian bagi kita investor lokal yang memang bertransaksi sehari-hari menggunakan rupiah, tidak ada salahnya mengincar kupon yang dibayarkan oleh obligasi-obligasi ini. Kalaupun mau mengincar capital gain, bisa dilakukan untuk jangka panjang. Niscaya, ketika badai wabah sudah mereda nanti, pasar saham dan rupiah pun akan kembali menguat, sehingga obligasi pun akan terbawa dampak positifnya.

Obligasi Perusahaan

Menimbang kondisi ekonomi yang memburuk, performa kegiatan usaha harusnya cukup terganggu. Meskipun tidak ada tanda-tanda bahwa akan ada perusahaan yang gagal bayar obligasi, saran saya hindari dulu obligasi perusahaan karena obligasi negara tentu menjadi pilihan yang jauh lebih ok saat ini.

Strategi saya dengan obligasi adalah dengan menambah porsi kepemilikan obligasi negara saya melalui pembelian di pasar sekunder

Emas

Emas yang digembor-gemborkan sebagai safe haven memang sempat naik drastis di awal tahun 2020, karena orang beramai-ramai menabung emas untuk memitigasi ketidakpastian instrumen investasi lainnya. Kendati demikian, saat ini nilai emas kembali cukup labil dengan pergerakan naik dan turun yang tidak terduga. Penguatan dolar Amerika mungkin jadi salah satu sebabnya.

Menurut saya, emas kurang ideal menjadi pelarian investasi kita saat ini, karena kenaikan nilainya sudah terlanjur tinggi selama setahun terakhir, serta arah kenaikan atau penurunannya menjadi tidak terduga saat ini, jadi tidak ada jaminan masih akan naik drastis untuk beberapa bulan kedepan.

Bicara dari segi retur, emas tidak memberikan kita pendapatan pasif karena sifatnya apresiasi nilai, kecuali jika anda menggunakan jasa Pegadaian atau Lakuemas untuk ‘menyimpan dan menjual’ emas anda. Tapi perlu anda ingat, layanan tersebut mendapatkan keuntungan bila ada yang mau membeli emas anda. Disaaat ekonomi sulit seperti ini, saya ragu bahwa akan ada banyak orang yang mau membeli emas.

Saat ini kepemilikan emas saya hanya sisa dalam bentuk fisik saja, per tanggal 24 Maret 2020 saya sudah merealisasikan keuntungan 9-11% dengan menjual seluruh tabungan emas (saldo digital).

Asuransi / Unit link

Menurut saya cukup bagus untuk masuk ke asuransi unit link sekarang, karena selain mendapatkan perlindungan jiwa dan kesehatan yang sangat penting dalam situasi kesehatan, kita juga bisa memanfaatkan momentum NAV unit link yang sedang berjatuhan (tadi kita sudah bahas bahwa obligasi dan saham, yang merupakan komponen unit link dan reksadana sedang jatuh).

Saya bukannya nyumpahin pembaca blog ini kena COVID, tapi amit-amit kalau memang kita kena, setidaknya bisa sedikit tenang ada asuransi yang melindungi perawatan kita, serta memberikan warisan kepada keluarga kita kalau amit-amit (sekali lagi amit-amit) kita tutup usia.

Bagi mereka yang sudah memiliki proteksi asuransi lengkap, menurut saya asuransi yang perlu dilirik saat ini adalah asuransi dwiguna yang memberikan fleksibilitas investasi, perlindungan instan tanpa medical checkup, serta bonus perlindungan jiwa ‘gratis’. Jadi dengan mengambil asuransi dwiguna, kita berinvestasi pada unit link yang memang sedang murah sehingga kemudian hari bisa mendapatkan untung, dan juga mendapatkan tambahan lagi perlindungan jiwa untuk memitigasi risiko kita terkena Corona.

Strategi saya adalah menambah polis asuransi dwiguna, untuk menambah porsi reksadana saham dan mendapatkan tambahan perlindungan jiwa.

Equity Crowdfunding

Saya tidak pernah menganggap equity crowdfunding (ECF) sebagai investasi yang aman, jadi di situasi seperti itu, risiko ECF bukannya menurun tapi malah akan meningkat. Tanpa wabah atau masalah ekonomipun, bisnis yang kita investasikan di ECF bisa saja gagal karena persaingan, konflik kepentingan, dan kesalahan manajemen (baca kisahnya disini). Risiko-risiko tersebut hanya akan meningkat di kondisi ekonomi yang sedang tidak baik, karena orang menjadi berhemat (tidak mengeluarkan uang). Terlebih di saat isu Corona ini, kita semua dianjurkan untuk tidak keluar rumah untuk membeli barang ataupun makan. Hampir semua bisnis yang didanai di ECF adalah UMKM ataupun franchise yang bersifat kuliner dan jasa, jadi sudah jelas pendapatan mereka akan sangat terpengaruh oleh isu Corona ini.

Hindari ECF sampai ekonomi membaik dan stabil, kecuali anda punya maksud dan tujuan lain selain retur murni (misalnya memenuhi ego memiliki bisnis, bantu teman, dsb).

Strategi saya dari awal sampai sekarang adalah menghindari Equity Crowdfunding.

P2P Lending

Sedikit banyak apa yang saya tulis disini sebenarnya sudah menggambarkan cukup jelas apa yang akan terjadi pada P2P lending bila resesi tiba. Ingat, bukan virusnya yang melumpuhkan P2P lending, tapi dampak ekonominya. Dampak P2P lending harus dibagi berdasarkan sektor pinjamannya.

P2P Lending Produktif Perusahaan

Ekonomi lesu akan mengganggu cashflow banyak perusahaan yang meminjam di P2P lending. Perusahaan yang cashflownya bagus cenderung tidak akan meminjam untuk financing, jadi kebanyakan peminjam di P2P lending memang perusahaan yang cashflow nya pas-pasan. Bila produk atau jasa mereka menurun penjualannya sudah pasti pinjaman P2P lending yang jadi korbannya, apalagi jika perusahaan tersebut punya hutang ke bank juga. Sudah jelas hutang bank yang diprioritaskan untuk dilunasi.

Kalaupun masih mau main di sektor ini, pastikan mendanai pinjaman yang dilindungi asuransi (misalnya Akseleran dan Komunal). Dan itupun anda harus ingat, klaim asuransi hanya bisa cair bila pinjaman sudah macet lebih dari 90 hari. Pastikan juga untuk mempelajari fund fact sheet setiap peminjam dengan seksama, dan pilihlah peminjam yang bergerak di industri yang sehat alias tidak terlalu terdampak pandemi.

P2P Lending Produktif UMKM dan Mikro

Secara historikal memang sektor ini cenderung tidak terpengaruh oleh chain reaction dari resesi. Ada beberapa faktor yang melindungi mereka yaitu, ekosistem kegiatan usaha mereka cenderung tertutup, uangnya tidak diputar kemana-mana, dan kegiatan usaha mereka biasanya kebutuhan sehari-hari yang tetap saja digunakan sekalipun ekonomi sedang sulit (pulsa, sayuran, reparasi, konveksi).

Namun perlu diingat bahwa resesi tahun ini dipicu oleh isu kesehatan, dan diluar dugaan saya, justru sektor UMKM dan Mikro ini terkena dampak yang sangat parah sekali karena PSBB. Bisa dilihat contohnya dari Amartha yang melakukan relaksasi kredit serta Mekar yang sempat berhenti menggalang dana.

Kalaupun anda mau ikut mendanai sektor, pastikan lokasinya tidak di daerah metropolitan yang rentan wabah, bidang usahanya berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari, dan peminjam memiliki sejarah pengembalian pinjaman yang lancar. Jangan mendanai peminjam yang belum pernah meminjam sebelumnya.

P2P Lending Konsumtif

Perkiraan saya jumlah pinjaman di sektor konsumtif akan meningkat karena naiknya kebutuhan kesehatan orang-orang. Harga beberapa kebutuhan dasar yang terus naik (karena panic buying) juga berpotensi meningkatkan kebutuhan pinjaman di sektor konsumtif.

Kendati demikian, beberapa pinjaman konsumtif sebenarnya paling sering meminjam untuk membeli barang kurang penting seperti ponsel atau pakaian, dan dalam hal ini saya kira kebutuhannya akan menurun karena adanya kesadaran perlunya mempersiapkan dana darurat bila sakit.

Jadi menurut saya sektor konsumtif tidak akan terpengaruh dari sisi jumlah peminjam (karena ada efek balancing), namun akan terpengaruh di tingkat gagal bayarnya. Hal ini bisa terjadi kalau negara kita gagal mengkontrol penyebaran virus Corona sehingga roda ekonomi makin macet dan berakibat pada PHK massal. Sampai saat ini Pusdafil atau FDC buatan OJK belum sepenuhnya terintegrasi, sehingga satu individu masih bisa memiliki beberapa pinjaman di beberapa p2p lending.

Bayangkan saja kalau individu tersebut dipecat, bagaimana ia bisa melunasi pinjamannya yang banyak tersebut? Belum lagi kalau dia amit amit meninggal terkena COVID, apakah ada asuransi yang melindunginya? Dan sekalipun asuransi cair, apakah ahli warisnya bersedia untuk menggunakan dana asuransi tersebut untuk melunasi pinjamannya? Ingat, pinjaman P2P lending tidak mewajibkan anggota keluarga untuk bertanggungjawab atas gagal bayar. So many things can go wrong.

PHK massal juga akan membuat algoritma P2 P lending konsumtif tidak efektif. Algoritma P2P lending konsumtif menyebarkan dana kita ke berbagai peminjam untuk meminimalkan risiko, tapi bila mayoritas peminjam tersebut terkena PHK, maka risikonya pun tidak bisa dihindari lagi oleh algoritma tersebut.

Kendati demikian, sektor konsumtif masih aman kita danai bila memiliki tenor pendek (dibawah 30 hari) serta dilindungi asuransi kredit (misalnya Asetku). Logika bocil saya berkata, kalau dia dipecat, setidaknya masih ada gaji terakhir yang akan ia terima dan bisa digunakan untuk melunasi pinjaman. Apabila anda memang kurang percaya pada model bisnis Asetku (karena too good to be true?), anda bisa memilih opsi yang lebih aman lagi yaitu Danain. Meskipun retur nya jauh lebih kecil, namun Danain memiliki agunan emas serta jaminan anti telat bayar dan anti telat bayar.

Saya tidak lagi menambah porsi P2P lending konsumtif (sudah cukup banyak di portfolio saat ini) , tapi bagi yang mau untung cepat dan stabil di saat seperti ini, pilihannya hanya P2P lending konsumtif.

P2P Lending Budidaya

P2P lending budidaya disini maksudnya adalah proyek pertanian, peternakan, perikanan, dan hal-hal lainnya. Penyakit COVID tidak mempengaruhi budidaya, dan kebanyakan lokasi proyek budidaya berada jauh dari lokasi rawan COVID, jadi seharusnya tidak terdampak banyak.

Budidaya juga merupakan kebutuhan dasar yang terus dibutuhkan tak peduli bagaimana keadaan ekonomi dan kesehatan, sehingga justru saya menilai kita harus turut mendukung P2P lending budidaya menggerakkan roda ekonomi disaat seperti ini.

Risiko P2P lending budidaya selalu tinggi karena kita menghadapi alam yang penuh ketidakpastian. Isu covid tidak menambah ataupun mengurangi risiko tersebut. Sejauh ini baru Danamas saja yang berhasil menerapkan asuransi kredit untuk proyek budidaya. Di sisi lain, Tanifund menjadi satu-satunya P2P lending budidaya yang masih memiliki TKB90 100%, jadi dua penyelenggara tersebutlah yang saya rekomendasikan untuk kita danai demi kebaikan negara.

Maka dari itu saya akan meningkatkan investasi saya di P2P lending budidaya untuk membawa dampak sosial yang baik di saat ekonomi lesu.

Reksadana

Saya bahas reksadana paling akhir karena tentu sudah banyak website lain yang membahasnya lebih bagus daripada saya, jadi kemungkinan besar anda tidak datang kesini mencari pembahasan reksadana kan.

Reksadana Saham (Growth non Index)

Pada esensinya sama seperti saham, bisa dicicil dengan metode average down. Perlu diperhatikan komposisi reksadana yang anda pilih. Apakah berisi saham-saham mid cap small cap ? Karena ketika recovery terjadi, biasanya yang akan pulih terlebih dahulu adalah blue chip karena akan kembali diborong investor asing. Sehingga bila reksadana saham yang anda pilih fokus main di ‘gorengan’ lebih baik jangan di top-up dulu dan fokuslah menyicil reksdana index (baca dibawah).

Saya tidak menghiraukan terlebih dahulu reksadana saham untuk saat ini, namun tidak di cutloss juga karena akan naik kemudian hari

Reksadana Index

Perbedaan reksadana index daripada reksadana saham adalah strateginya yang lebih bersifat defensive, alias berusaha mengikuti pergerakan index tanpa harus outperform. Reksadana index cenderung punya biaya manajemen yang lebih rendah daripada reksadana saham growth karena mereka terlalu melakukan active portfolio management.

Reksadana index inilah yang menurut saya paling layak dicicil jika anda tidak berinvestasi saham secara langsung. Ketika recovery pasar saham dimulai, anda sudah langsung bisa menikmati keuntungannya tanpa repot-repot memantau pergerakan harga.

Saya menyicil reksadana index secara harian untuk mendapatkan dollar cost averaging secara maksimal,

Reksadana Pendapatan Tetap

Awalnya saya banyak masuk ke reksadana jenis ini sejak saham berjatuhan, harapannya untuk mengimbangi penurunan nilai saya di reksadana saham maupun kepemilikan saham secara langsung. Memang benar, awal-awal reksadana pendapatan tetap saya lumayan menghasilkan apresiasi nilai yang cukup baik.

Namun semuanya berubah sejak rupiah terus menerus melemah terhadap USD. Anda bisa baca penjelasan tentang obligasi diatas untuk memahami kenapa harga obligasi di pasar sekunder terus menerus jatuh. Nah, karena reksadana pendapatan tetap komposisinya banyak obligasi, maka tentu saja nilainya turut berjatuhan. Dan karena terus menerus dijual harga murah oleh investor asing, maka pembayaran kupon dari obligasi-obligasi tersebut pun tidak bisa mengimbangi kejatuhan nilainya.

Saya tidak lagi menambah porsi kepemilikan pendapatan tetap namun tidak juga melakukan cutloss, karena cepat atau lambat pasti akan pulih.

Reksadana Pasar Uang

Satu-satunya harapan selain deposito untuk menghasilkan retur yang konsisten. Tidak ada hal lain yang bisa saya sampaikan disini.

Saya mengalokasikan sebagian besar dana darurat saya disini.

Reksadana Campuran

Pada esensinya reksadana campuran ini nanggung karena mencampur komposisi obligasi dan saham sekaligus. Dua-duanya sedang jatuh, jadi reksadana campuran pun ikut jatuh.

Saya pribadi menilai lebih baik memiliki reksadana saham dan reksadana pendapatan tetap secara terpisah dibanding memiliki satu reksadana campuran, karena dalam reksadana campuran kita terlalu bergantung pada manajer investasi untuk mengatur alokasi portofolio kita, sedangkan bila memiliki reksadana pendapatan tetap dan saham secara terpisah, kita bisa menambah atau mengurangi komposisinya sesuai keingingan kita kapanpun.

Kendati demikian, perlu diperhatikan bahwa ada beberapa reksadana campuran yang secara ajaib mencetak retur sangat baik, misalnya Mandiri Brawijaya Berimbang dan Insight Syariah Berimbang. Hal ini karena manajer investasi reksadana campuran memiliki fleksibilitas yang sangat tinggi dalam manajemen portofolio mereka. Ketimbang harus cutloss saham dan menaruhnya di saham lain yang akan jatuh, mereka bisa memindahkan alokasi dana tersebut ke obligasi yang lebih stabil. Demikian juga sebaliknya ketika harga obligasinya naik, mereka bisa realisasi profit dan menaruhnya ke saham yang sedang ‘diskon’

Komposisi reksadana campuran di portofolio saya sangat kecil dan tidak akan saya tambah maupun kurangi saat ini.

Reksadana Terproteksi

Tanpa ragu lagi inilah reksadana terbaik yang paling cocok dimiliki saat ekonomi sedang tidak stabil. Sayangnya, reksadana terproteksi tidak diperdagangkan secara bebas dan harus menunggu masa penawaran tertentu.

Cara kerja reksadana teproteksi sangat mirip obligasi retail yang tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder, karena nilai pokoknya tidak berubah dan memberikan return secara pasti.

Apabila ada reksadana terproteksi yang ditawarkan, tentu pasti akan langsung saya ambil.

9 thoughts on “Strategi Investasi Saat Pandemi COVID-19

  1. Saya ingin bertanya pak, mengulang pembahaan yang pernah bapak jelaskan ketika saat workshop di office tower S2i bahwa resesi itu pasti akan terjadi.

    Apakah pandemik virus Corona ini adalah yg mendorong terjadinya resesi di tahun 2020 ini?

    Mohon diberi penjelasannya pak baik opini ataupun fakta nya. Terimakasih

    1. Sampai detik ini indonesia belum masuk tahap resesi, namun sudah ada tanda2 untuk kearah sana. Apabila pemerintah kita gagal untuk menstabilkan ekonomi yang sedang melemah karena corona, maka pada akhirnya bisa saja indonesia masuk tahap resesi

  2. tulisan yg bagus pak… saya wait and see dulu, sampai issue corona mereda. Saya sebenernya tertarik di Asetku, dan review bapak di tulidan ini bagian P2P “Lending Konsumtif: cukup menarik pak… utk bagian P2P “Lending Budidaya” juga saya setuju pak, karena pemikiran saya manusia tetap butuh makan walau dalam situasi resesi sekalipun…

    1. iya pak. lending budidaya selalu berisiko tinggi tanpa wabah sekalipun. Untuk lending konsumtif ini di Indonesia memang too good to be true karena TKB90 nya 100%, ada asuransi kredit, dll. Seakan-akan risikonya mendekati 0. Untuk yang aman tapi masuk akal sebenarnya ada di Danain

  3. Thanks atas tulisannya Pak. Kalo bisa kasih saran Pak, berapa prosentase dari masing-masing aset tsb yang idealnya dan bisa relatif lebih tahan badai ketika krisis seperti sekarang ini?

    1. Kalau perihal ini sih tergantung profil risiko masing masing orang pak. Kalau memang mau memanfaatkan risk mayoritas bisa di saham. Kalau memang mau main aman di obligasi negara

Leave a Reply to Raja Dubu Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.