image.jpg

Surat Terbuka untuk Hugo Didik Kurniawan

Update 23 Mei 2021: ada klarifikasi dari pacar ybs, tapi tidak menyelesaikan masalah. Cek updatenya di bagian paling bawah.

Surat Asli

Halo saudara Didik,

Tidak apa kan saya memanggil Didik? Sebab saya suka dengan istilah ‘didik’ yang merupakan kata kerja sinonim ‘mengajar’. Kata-kata yang identik dengan kepintaran dan intelektualitas.

Meskipun sepertinya nama tersebut terlalu berat untuk anda ya?

Tidak apa, nama adalah doa. Kadang-kadang doa memang belum terkabulkan. Ada saatnya kok. Tapi saya lihat, anda lulus sarjana teknik dari salah satu universitas ternama ya. Sehingga saya heran atas perilaku anda hari ini yang sungguh tidak mencerminkan perilaku orang berpendidikan. Apalagi ketika saya lihat di Instagram anda ada story highlight dimana anda membuat gestur jorok yang tidak sopan. Aduh. Padahal saya lihat-lihat karirnya lumayan bagus ya, tapi tidak menunjang dari perilakunya di media sosial.

Pertama, anda mencoba memicu konflik rumah tangga orang.

Ketimbang menjadi gentlemen yang bicara empat mata sesuai ajaran Alkitab dan kode etik pria, anda tiba-tiba mengirim pesan ke istri saya dan berkata bahwa saya ‘genitin pacar anda’. Ketika diminta bukti, anda mengelak dan bilang “kalau ga percaya yaudah”. Wah, anda cocok jadi ahli debat partai politik: karena bisa nuduh dengan omong kosong saja!

Saya kecewa sih karena usaha anda membuat drama di rumah tangga saya gagal total, karena memang selama menikah 4 bulan ini rumah tangga saya damai tentram tanpa konflik, jadi saya rasa seru juga kalau ada cobaan.

Puji Tuhan, saya dikarunai istri waras yang saling percaya dengan saya, sehingga ia tidak mudah percaya omongan orang lain termasuk anda. Saya dan istri saya juga mengikuti kursus pernikahan sebelum memutuskan menikah, dan ia tahu persis karakteristik saya yang memang agak genit sama wanita.

Tapi ya, saya genit juga tahu tempat dan waktu sih. Terakhir kali saya genit ya mungkin sudah 2 sampai 3 tahun lalu ya, ketika saya belum mengenal istri saya yang jauh lebih menarik daripada gadis-gadis yang saya kenal sebelumnya.

Saya mencoba berpikir positif dan berpikir ini hanya kesalahpahaman saja

Tidak perlu emosi lah, saya yakin kok saya ga salah, jadi saya langsung chat anda dan minta maaf meskipun tidak tahu saya salahnya dimana. Alih-alih membuka diskusi yang kondusif dengan kepala dingin, anda malah menuduh saya “maling yang ga mau ngaku” dan mengancam dengan “hukum tabur tuai”

Waduh. Anda mungkin juga cocok jadi pemimpin agama gadungan yang tidak suka dikritik umatnya ya, karena anda pintar sekali membuat argumen tanpa data yang tidak bisa dielakkan. Saya bingung itu belajar darimana, karena selama kuliah pasti mengerjakan skripsi, dimana skripsi itu harus diperdebatkan menggunakan data.

Saya punya bukti, anda ga punya bukti?

Sebagai sesama sarjana yang berkarir, kita harusnya diskusi sehat dong bang. Saya punya bukti jelas bahwa saya tidak menjalin komunikasi dengan pacar anda selama 2 tahun terakhir. Screenshot jelas, baik di Instagram maupun Whatsapp.

Saya cuma minta bukti satu, apa yang menjadi landasan anda menuduh saya ketemuan dengan pacar anda di bulan Desember? Saya siap memberikan bukti lebih lanjut berupa history timeline Google maps yang merekam jelas setiap pergerakan saya setiap harinya. Serius deh, ini bukan ngada-ngada.

Saya mohon maaf kalau saya emosi ya

Ya cowo mana sih bang yang ga emosi, setelah dituduh berbuat dosa, lalu mau klarifikasi, eh malah ditolak. Wajar atuh, saya juga manusia yang bisa marah.

Tapi kalau saya marah, berarti saya sama gilanya dengan anda dong. Jadi saya coba berpikir kreatif saja: keanehan anda bisa menjadi materi lucu bagi followers dan teman-teman saya. Sehingga saya share deh kalimat-kalimat anda yang sangat ter didik itu. hehe

Ampun bang, jangan kena UU ITE yaa.

Saya khawatir jangan-jangan anda cuma orang iseng yang butuh uang dan berusaha menjerat saya dengan UU ITE 🙁 Jadi untungnya saya sudah mempersiapkan lawyer yang siap menggunakan KUHP 369 ayat 1.

Tapi sudahlah ya, masa sih urusan gini doang ke ranah hukum. Buang-buang duit, waktu, dan tenaga. Iya ga? Waktu saya sih berharga karena saya punya banyak hal penting yang harus dikerjakan. Saya tidak tahu dengan anda.

Jangan samperin saya, saya anak mami papi yang cengeng 🙁

Saya sih tergolong cengeng dan gasuka berantem, tapi untungnya kelakuan anda hari ini bikin saya emosi sambil ketawa, bukan sambil nangis.

Saya tidak ingin melibatkan orang tua dalam masalah ini sih, duh tapi sayangnya adik saya memang sayang dengan saya, sehingga dia cerita ke papa mama saya. Mereka pengertian sih, dan paham bahwa anda memang tidak perlu diladeni.

Ngomongin soal keluarga, saya bingung, apa pendapat orang tua anda kalau tahu juga soal kasus ini? Saya penasaran, mungkinkah mereka lebih bisa diajak bicara rasional ketimbang anda?

Lebih menarik lagi kalau calon mertua anda tau soal ini. Apakah ini image yang bagus untuk anda sebagai calon menantu?

Terlepas dari itu semua, saya maafin anda sih

Yah, anda memang ga minta maaf sih, tapi dalam hati sudah saya maafkan. Itu ajaran agama saya, dan tindakan rasional yang memang wajar dilakukan orang waras seperti saya.

Saya memaafkan anda karena saya yakin anda pasti ada masalah mental atau jiwa. Tidak ada orang waras dan sehat yang tiba-tiba menuduh pacarnya selingkuh tanpa bukti.

Jangan-jangan, anda cuma butuh tenar?

Wah, kalau gitu anda mungkin sedikit berhasil. Saya sih bukan artis tenar yang bisa blowup kasus ini ya, tapi setidaknya semua teman-teman dekat saya, keluarga inti, dan sebagian besar teman sosmed saya sudah tahu kasus ini.

Oh iya, lebih penting sih saya sudah kirimkan foto dan identitas anda ke mereka semua. Barangkali suatu hari anda ada kerjasama atau pekerjaan dengan salah satu kerabat saya, mereka jadi ingat kan watak anda dan keunikan anda hari ini.

Sebagai jaminan juga sih, kalau sampe saya anda culik, jadi kan gampang carinya 🙁 hehe.

Saran saya sih, ke psikolog secepat mungkin mas

Saya khawatir lho dengan teman saya yang sekarang jadi pacar mas, gimana itu masa depannya kalau punya suami yang masih kekanak-kanakan seperti mas Didik?

Saya belajar dari Kelas Cinta bahwa perilaku seperti yang mas lakukan itu pertanda insyekur, alias merasa inferior, ga yakin akan kemampuan diri sendiri. Nah kalau gitu gimana nasib teman saya yang anda akan jadikan rekan seumur hidup?

Makanya saya nyengir ketika anda suruh saya ‘menjernihkan pikiran’. Yakin kah bukan sampean yang perlu menjernihkan pikiran? Mungkin pekerjaan anda sebagai drafter membuat anda sedikit tertekan karena butuh ketelitian.

Saya banyak kenalan psikolog kok, saya rela bayarin demi mas Didik kalau memang perlu.

Sekian surat permohonan maaf dari saya.

Titip salam buat pacar anda, soalnya anda bilang gaboleh contact dia lagi kan. Nanti karma katanya. Padahal saya bingung karma jelek apa yang saya tuai. Saya penyayang hewan, rajin pelayanan dan ibadah, mengajar secara gratis. Ah tapi yasudalah, yang penting bagi saya kan penilaian dari Tuhan, bukan dari anda.

Btw ini kesan dan pesan teman-teman saya kepada anda. Semoga bisa memuaskan ego anda yang nyentrik itu.

Update 22 Mei 2021:

saya menerima klarifikasi dari Susan bahwa bukan anda yang mengancam saya melainkan ‘akun Instagram anda di hack’. Nah sekarang gantian, saya ga percaya lah! Bedanya, saya ga percaya karena memang bukti bukti anda ga mendukung:

  1. Orang macam apa yang iseng hack Instagram hanya untuk cari masalah dengan orang? Orang itu hack ada motif finansialnya misalnya minta pulsa, bukan malah sok sok ngelabrak orang lain!
  2. Susan bilang Instagram anda hanya satu yang aktif. Lucu sekali, padahal kedua Instagram anda isi bio nya sama, masih sama-sama aktif posting foto. Bedanya satu akun untuk upload foto motor, satu lagi untuk upload foto pribadi anda.
  3. Buktinya, akun anda yang satu selalu men tag akun anda yang lainnya. Dan bahkan hashtag yang digunakan selalu sama persus!
  4. Kalau memang akun Instagram anda hanya satu, kenapa (a) susan follow keduanya dan (b) anda tidak pernah melaporkan akun satunya lagi yang merugikan anda?
  5. Akhirnya, bila memang bukan anda yang mencari masalah dengan saya, saat ini harusnya anda sudah membuka komunikasi dengan saya untuk klarifikasi, minta maaf, dan minta tulisan ini dihapus. Saya ga block anda dimanapun, tapi sampai sekarang masih ga ada juga permintaan maaf.

Alasan anda seluruhnya ga masuk akal, dan saya tahu persis apa yang terjadi diantara anda dan Susan. Pasti anda menyesal cari masalah dengan saya, lalu mencari alasan layaknya anak sekolah supaya masalah tidak berlanjut lagi. Susan pasti berusaha meyakinkan anda untuk minta maaf kepada saya, tapi gengsi anda terlalu besar untuk hal itu. Benar kan?

Sebagai orang waras saya tidak ingin masalah ini berlanjut lagi, tapi saya tidak akan pernah melupakan anda. Saya harap sampai akhir hayat anda, anda tidak ada urusan lagi dengan saya. Tapi jika anda ganggu saya atau keluarga saya lagi, maka saya tidak akan segan-segan menyeret anda secara hukum.

Bukti-bukti atas kejanggalan alasan Susan saya lampirkan dibawah ini. Ingat, yang penting bukti!

 

Saya tidak akan menghapus tulisan ini, sekalipun anda minta maaf sekalipun, kecuali anda bisa membuktikan bahwa benar akun Instagram anda di hack (sertakan screenshot account warning dari Instagram di tanggal dan jam dimana anda memulai masalah dengan saya)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

LOOKING FOR ENGLISH CONTENT?

Except for the literature, all my Bahasa contents are translator-friendly, so you can summon the might of Google Translate below.

AUTO-TRANSLATE
CATATAN TERPOPULER