Panduan Obligasi dan Surat Berharga Negara

Intisari dan Rekomendasi

Meskipun returnya kurang menarik dan likuiditasnya cukup lama, obligasi negara adalah instrumen investasi paling aman kedua (setelah deposito) yang perlu dikoleksi untuk diversifikasi portfolio anda – sambil membantu ekonomi negara!

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan

  • Sangat sangat aman karena dijamin negara bahkan pembayarannya masuk dalam anggaran negara
  • Bermacam macam seri obligasi memiliki dampak sosial berbeda beda yang bisa dipilih
  • Umumnya memiliki retur diatas bunga deposito

Kekurangan

  • Likuiditas cenderung rendah karena banyaknya alternatif yang lebih likuid
  • Minimum investasi yang tergolong tinggi yaitu 1 juta rupiah
  • Tidak bisa didapatkan kapan saja, harus menunggu masa penawaran

Kamus istilah obligasi:

Billing code: Nomor virtual account yang dialokasikan untuk anda membayar pesanan obligasi anda

BPS: satuan selisih bunga obligasi dengan suku bunga bank Indonesia (lihat deskripsi spread dibawah). 100 BPS berarti 1 persen, 25 bps berarti 0.25 persen, dan seterusnya.

Capital Gain/Loss: Selisih harga jual dan harga beli yang diartikan menjadi keuntungan atau kerugian . Capital gain/loss hanya berlaku bagi obligasi yang bisa diperdagangkan di pasar sekunder (lihat definisi dibawah) sehingga terjadi perubahan harga berdasarkan permintaan dan penawaran.

Dividen: sama saja dengan kupon, yield, atau bunga. Istilah dividen kurang tepat digunakan untuk obligasi karena dividen adalah istilah yang tepat untuk kepemilikan saham.

Early Redemption: Fitur obligasi negara seri tertentu dimana anda bisa mencairkan modal lebih awal. Misalnya, harusnya modal anda dikembalikan tahun 2022, namun dengan early redemption anda bisa memohon pencairan modal tahun 2021. Biasa jumlah maksimal yang bisa dicairkan lebih awal adalah sebesar 50% dari pesanan awal anda

Floating floor: Rate kupon/coupon obligasi negara seri tertentu terus berubah setiap 3 bulan sekali mengikuti suku bunga bank Indonesia. Agar lebih menarik bagi investor, obligasi negara menetapkan bunga minimum yang tidak bisa turun dibawah nilai tertentu. Untuk contoh perhitungan floating floor ini, lihat bagian bawah artikel ini.

FR: Singkatan dari Fixed Rate, yaitu Seri obligasi yang bisa diperdagangkan di pasar sekunder (lihat definisi dibawah) sejak lama

Kupon: sama saja dengan bunga , yield, atau dividen. Jumlah uang yang anda terima setiap bulannya atas investasi modal anda 

Kupon/Coupon rate: sama saja dengan persentase bunga tabungan atau investasi anda selama setahun. Angka ini berbeda untuk setiap seri obligasi dan belum dipotong pajak sebesar 15%. Penentuan angka ini didasarkan pada suku bunga Bank Indonesia yang berlaku saat seri tersebut ditawarkan

Masa penawaran: jarak tanggal dimana anda bisa mulai memesan obligasi. Setelah masa penawaran berakhir anda tidak bisa lagi memesan obligasi seri tersebut.

Maturity: jatuh tempo obligasi dimana modal anda dikembalikan seluruhnya.

Midis: singkatan dari mitra distribusi

Mitra Distribusi: Pihak yang ditunjuk penerbit obligasi untuk menjadi penjual langsung kepada calon investor. Bisa merupakan perusahaan tekfin/fintech, bank, atau institusi keuangan lainnya.

Obligasi: Istilah obligasi sebenarnya lebih luas karena bisa mencakup obligasi negara dan obligasi perusahaan. Sedangkan surat berharga negara adalah salah satu kategori obligasi

ORI: Singkatan dari Obligasi Retail Indonesia. Seri obligasi baru (tahun 2019) yang bisa diperdagangkan di pasar sekunder

Pasar Primer: Masa dimana suatu obligasi ditawarkan ke publik untuk pertama kalinya, harga obligasi di pasar ini tentu ditentukan oleh penjualnya langsung negara atau institusi swasta)

Pasar Sekunder: Masa dimana suatu obligasi diperdagangkan antar khalayak publik, harga obligasi di pasar ini tentunya dikendalikan oleh permintaan dan penawaran pelaku pasar, mirip pasar saham

SBR: Singkatan Surat Berharga Retail, yakni Seri obligasi baru yang tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder dan ditawarkan ekslusif lewat daring (online)

Seri: Obligasi yang ditawarkan ada banyak jenis/macamnya. Istilah seri ini mengindikasikan macam/variasi obligasi yang ditawarkan. Lihat penjelasan ST, SBR, FR, dan ORI sebagai contohnya.

ST: Singkatan dari Sukuk Tabungan, yaitu Seri obligasi SYARIAH yang tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder

Surat Berharga Negara: Salah satu jenis obligasi yang menjadi fokus pembahasan di dalam artikel ini. Saya lebih suka menggunakan istilah obligasi negara karena lebih singkat, namun secara resmi negara kita menggunakan istilah SURAT BERHARGA NEGARA.

Spread: Selisih yang ditambahkan antara suku bunga bank Indonesia dan bunga obligasi, dinyatakan dalam satuan BPS (lihat definisi BPS diatas)

Tanggal Early Redemption: Tanggal dimana anda bisa meminta pencairan modal lebih awal. Biasa jumlah maksimal yang bisa dicairkan lebih awal adalah sebesar 50% dari pesanan awal anda

Tanggal maturity: lihat definisi maturity diatas

Tanggal Settlement: setelah masa penawaran berakhir, tanggal ini menjadi tanggal dimana obligasi didistribusikan ke masing-masing investor

Mitra Distribusi (agen penjual) yang saya rekomendasikan

Sebenarnya semua midis (mitra distribusi) sama saja, karena tidak ada yang boleh menaikkan harga penjualan perdana serta pembayaran ditujukan ke virtual account milik negara secara langsung. Tugas midis lebih fokus pada sosialisasi, promosi, dan layanan purna jual (misalnya untuk early redemption)

Jadi, memilih mitra distribusi sebenarnya hanya tergantung pada dua hal:

  • Promosi yang mereka berikan
  • Kualitas pelayanan

Pengalaman saya, tentu dalam hal promosi fintech jauh lebih agresif. Sedangkan dalam kualitas pelayanan tentu bank lebih unggul, apalagi bila hubungan anda dengan mereka baik (misalnya anda nasabah prioritas atau hubungannya baik dengan staf cabang)

Jadi yang bisa memilih mitra distribusi terbaik adalah anda sendiri. Anda mau membantu bank memenuhi target penjualan atau mengincar promosi?

Kalau anda tanya saya, saya hanya fokus pada promosi dan tidak memiliki loyalitas pada mitra tertentu. Dulu saya setia di Investree karena mereka cashbacknya kencang. Lalu sekarang mereka sudah kalah, jadi saya pindah ke Modalku.

Apabila anda memang lebih percaya mitra perbankan sebagai agen penjual, maka saya sarankan pilih bank yang sudah memiliki aplikasi online untuk membeli obligasi. Contohnya BCA melalui aplikasi Welma, atau bank DBS melalui aplikasi Digibank.

Kendati demikian anda perlu ingat bahwa membeli dari beberapa mitra mungkin akan menyulitkan anda mengontrol portofolio anda, karena sebuah mitra hanya bisa menunjukkan data seri yang anda beli melalui mereka, jadi harus mengontrol portfolio di beberapa mitra sekaligus.

Likuiditas

Obligasi negara sebenarnya masuk dalam kategori investasi jangka pendek karena jatuh tempo dalam maksimal 2 tahun. Namun sejak mengenal p2p lending, bagi saya investasi diatas 1 tahun sudah saya anggap jangka panjang.

Jadi bila dibanding emas dan deposito yang bisa cair kapan saja, saham dan reksadana yang bisa dijual kapan saja, apalagi p2p lending yang jatuh tempo dalam hitungan minggu, jelas bagi saya obligasi negara kurang likuid.

Namun perlu diingat bahwa untuk ada juga obligasi negara yang bisa diperdagangkan di pasar sekunder sehingga lebih likuid karena bisa dijual kapan saja, meskipun harganya bisa turun dan mungkin saja anda tidak menemukan pembeli.

Beberapa seri juga memiliki fitur early redemption dimana anda bisa mencairkan 50 persen modal anda setelah satu tahun.

Keunggulan utama obligasi dari segi likuiditas adalah bahwa bunga nya dibayarkan sebulan sekali, sehingga bisa dianggap uang jajan bulanan yang datang secara pasti (karena ada floating floor).

Retur

Retur, bunga, kupon, atau dividen obligasi negara sebenarnya kurang menarik bila dibandingkan instrumen investasi lainnya. Malah lebih tinggi reksadana obligasi yang menggabungkan beberapa obligasi sekaligus dan bisa dicairkan kapan saja.

Apabila anda hanya ingin investasi yang memaksimalkan keuntungan, maka obligasi negara bukanlah pilihan yang tepat untuk anda.

Contoh perhitungan floating floor:

Misalnya tanggal 5 Desember 2019 keluar seri SBR512 dengan rate kupon 7 persen.

7 persen ini ditentukan dari dari suku bunga bank Indonesia yang saat itu berlaku sebesar 6 persen, lalu ditambah BPS yang ditentukan penerbit obligasi sebesar 100BPS (100 BPS berarti 1 persen)

3 bulan kemudian pada Maret 2020, suku bunga bank Indonesia naik menjadi 7 persen. Otomatis, rate kupon SBR512 ini juga akan naik menjadi 8 persen, dengan perhitungan 7 persen + 1 persen (100 bps yang tidak akan berubah) + 1 persen (kenaikan suku bunga Bank Indonesia)

Lalu di periode penyesuaian suku bunga selanjutnya (Juni 2020), suku bunga Bank Indonesia turun menjadi 6 persen. 

Nah, karena rate kupon awal telah ditentukan 7 persen diawal, maka bunga obligasi nya tidak turun menjadi 6 persen, namun kembali ke 7 persen karena menjadi ambang batas minimum.

About asiaril

Tulisan saya adalah opini pribadi yang tidak memiliki kredibilitas apapun. Kerugian dalam bentuk apapun yang timbul akibat membaca tulisan saya (misalnya buang buang waktu) sepenuhnya menjadi tanggung jawab anda. Apabila anda tidak suka dengan karya saya, janganlah marah kepada saya, namun pukullah layar komputer anda dengan linggis.