Bakmi Orpa tak peduli kata kalian

Bakmi Orpa tak peduli kata kalian

Tulisan saya kali ini memang agak random, bukan review, bukan juga sastra. Mungkin campuran keduanya?

Bagi yang tidak tahu, dan pasti banyak yang tidak tahu. Bakmi Orpa adalah salah satu bakmi ayam legendaris di daerah Pejagalan Jakarta yang sudah ada sejak jaman kakek saya masih ganteng seperti saya. Sedari bocah saya suka makan disini, dan sampai sekarang pun demikian

Hari ini, Bakmi Orpa bernasib sama seperti Asetku dan buah durian, memiliki dua kubu yang mati-matian membela dan membenci.

Mengulas makanan memang sulit karena selera tergantung dari masing-masing lidah orang, namun alasan Bakmi Orpa memiliki banyak haters bukan karena rasanya yang kontroversial, namun karena beberapa faktor yang memang secara objektif pun tidak masuk akal.

Harga

Satu mangkok bakmi ayam dihargai 60.000. Iya, serius. Memang bukan yang paling mahal di seluruh Indonesia sih, tapi jelas menjadi salah satu yang termahal. Saya ingat betul, dulu teman baik saya bernama Nadia pernah sampai marah-marah di Instagram dan media sosial gara-gara dia dan teman-temannya bela-belain jauh-jauh kesini demi nyicip dan shock begitu melihat tagihannya.

Jangan anggap harga tersebut dibalas dengan porsi, karena porsinya lumayan kecil, dagingnya cukup pelit juga.

Pelayanan

Sama seperti gerai bakmi rintisan keluarga lainnya, dan usaha kuliner warisan keluarga pada umumnya, jangan berharap banyak soal pelayanan disini. Meskipun harganya bintang 5, namun pelayanan mas-mas gerobak pinggir jalan bisa jauh lebih baik.

Banyak cerita horor yang bisa kamu lihat sendiri di Zomato, Google Maps, dan platform lain tempat influencer nongkrong. Mulai dari sifat pemilik yang arogan, harga yang tidak pasti alias bisa dinaikin dan diturunin seenak jidat oleh pemiliknya. sambal dan kondimen yang pelit, dan yang terbaru adalah menolak ‘dine-in’ alias makan di tempat sekalipun sudah diizinkan oleh otoritas.

Nothing Special

Tidak ada yang spesial dari tempatnya. Akses jalannya sempit, parkirnya sedikit, temperatur ruangannya panas, tempat nya sederhana dan ga instagramable sama sekali.

Tapi bodo amat, karena…

Bakmi Orpa selalu laku, masih laku, dan rasanya akan tetap laku sampai setidaknya 10 tahun kedepan. Hukum permintaan dan penawaran berlaku disini.

Kenapa dia harus turunin harga kalau memang masih banyak orang yang mau membayar harga segitu?

Kenapa dia harus dengerin kritik dari para reviewer kalau masih banyak yang ga kapok-kapok datang kesana?

Kenapa dia harus inovasi dan merubah diri kalau memang tidak dibutuhkan?

Siapa sih memang pelanggannya?

Sangat umum menemui supercar parkir di gerai Bakmi Orpa, dan bila anda penasaran dengan wujud asli konglomerat konglomerat bermata sipit, maka sering-sering saja mampir kesini, saya jamin mudah menemukan mereka dengan mata kepala anda sendiri.

Meskipun pelanggan setia Bakmi Orpa tersebut suatu hari akan tutup usia, saya jamin ada warisan yang diteruskan oleh generasi kedua dan seterusnya, sama seperti saya yang mewarisi rasa cinta Bakmi Orpa dari kakek saya yang sudah tiada.

Bagaimana dengan saya?

Sekalipun harganya naik dua kali lipat, sekalipun saya harus membayar ekstra cuma untuk setitik sambal, dan sekalipun saya harus parkir 1km dari lokasi lalu berjalan kaki, saya masih akan tetap rela makan disini, bukan sekali dua kali, namun berulang kali sampai akhir hayat saya.

Saya bukan konglomerat sukses bermata sipit, namun saya sudah jatuh cinta selama berpuluh-puluh tahun terhadap rasa khas Bakmi Orpa. Makan Bakmi Orpa, menurut saya sama saja dengan makan brunch kekinian yang malah ga enak dan porsinya sedikit.

Bedanya, di Bakmi Orpa kita bayar 90% untuk rasanya yang legendaris, sedangkan di tempat kekinian kita bayar 90% untuk foto-foto dan pamer status sosial.

Saran

Untuk Bakmi Orpa: tidak ada masukan apa-apa, karena mereka tidak akan baca dan tidak akan peduli anyway. Food blogger legendaris saja dikacangin, apalagi saya. Toh kalau memang saya mau ngasitau, mendingan saya bicara langsung ketika saya makan disana sebulan dua kali.

Untuk orang yang baca tulisan ini: bila rela membayar 60rb demi semangkuk bakmi, saya benar-benar menyarankan anda untuk mencoba mie kontroversial ini, supaya anda bisa menentukan golongan anda: mau di sisi lover atau hater

Apabila ada satu hal yang bisa saya pelajari dari Bakmi Orpa, bahwa untuk sukses tidak selalu harus mendengarkan apa kata orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.