Ciri – Ciri P2P Lending Sayang Retail

Ciri – Ciri P2P Lending Sayang Retail

Bukan cuma saham yang punya drama retail dan bigfish, P2P lending juga ada persaingan antara lender retail dan institusi. Beberapa P2P lendingsangat retail-friendly, rela repot dan mengahadapi ‘bacotan’ lender yang uangnya receh tapi banyak maunya. Sedangkan beberapa lainnya menolak repot dan memilih untuk melayani lender insitusi yang uangnya berlimpah dan ;ga rempong’.

Sering Bikin Fitur Baru

Bukan malah bikin press release mulu

Penyelenggara yang fokus pada lender retail pasti senantiasa mengembangkan layanan mereka yang mempermudah pengalaman mendanai, misalnya fitur autolending, program compounding, dan lain-lain.

Di sisi lain, penyelenggara yang mengincar suntikan dana dan lender institusi akan lebih fokus membuat publikasi pers untuk mendapatkan eksposure yang membuat mereka dilirik.

Punya Banyak RM

Ga perlu punya banyak penghargaan

Kehadiran Relationship Manager memainkan peran penting bagi P2P lending yang fokus menjangkau lender retail. Mirip dengan RO (Relationship Officer) di bank, RM biasanya aktif membangun hubungan dan kepercayaan dengan lender agar lender menaruh lebih banyak dana.

Semakin banyak RM biasanya menandakan semakin banyak lender retail yang percaya di P2P lending tersebut.

Cenderung mudah dapat jatah pendanaan

Dan mudah juga mengajukan pertanyaan atau keluhan

Percuma saja menawarkan retur tinggi apabila tidak ada produk yang bisa didanai, ujung-ujungnya malah jadi uang mati yang tidak berbunga. Beberapa P2P lending mengalokasikan sebagian besar pendanaan khusus untuk lender institusi sehingga retail tidak kebagian sama sekali. 

Tentunya, hal ini juga harus disertai dengan pelayanan yang baik kepada lender.

Sering edukasi & diskusi

Bukan malah sibuk ikut lomba dan awarding

Kegiatan edukasi seperti webinar dan seminar jelas menyasar kaum retail yang cenderung pemain baru di dunia investasi, bukan lender institusi yang memiliki anggaran tinggi dan sudah berpengalaman di investasi.

P2P lending yang peduli pada retail juga biasanya aktif berpartisipasi dalam diskusi di media sosial maupun dalam komunitas di Telegram, dan bahkan sering mengadakan survei untuk mendengarkan pendapat para lender mereka.

Pamer TKB90

Bukan pamerin Total Disbursement

Total disbursement bisa menjadi indikator baik untuk mengukur bagaimana perkembangan suatu P2P lending. Total disbursement yang meningkat terus berarti keberlangsungan usahanya berkembang positif.

Namun percuma saja banyak disburse namun pinjamannya banyak macet, atau malah tidak tersedia untuk lender retail sama sekali. Indikator yang lebih tepat bagi lender retail adalah TKB90, yang bisa menggambarkan tingkat macet dari seluruh pinjaman di suatu P2P lending.

Punya Program Referral

Dan sering mengadakan promosi investasi

Lender institusi jelas tidak peduli promosi apapun, karena nominal penyaluran mereka tunduk pada skema kerjasama yang sudah disepakati. Sebaliknya, lender retail fleksibel dalam memilih dimana untuk menaruh dana mereka. Mereka bisa memindahkan dana dari satu P2P lending ke P2P lending lainnya tanpa denda apa-apa. Sehingga, P2P lending yang mengadakan promosi investasi maupun program referral jelas menyasar loyalitas dan endorsement dari para lender retail mereka.

Penutup

Siapa menurutmu yang sayang retail dan tidak?

Ada ciri – ciri lain yang bisa ditambahkan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.