EBA Ritel: Pengganti P2P Lending?

EBA ritel telah saya ketahui sebenarnya akan kehadirannya sejak tahun lalu, karena adanya konten kolaborasi dari kreator-kreator lain yang saya ikuti seperti Doddy Prayogo dan Fellexandro Ruby, namun baru sekarang saya mempelajari betul soal investasi baru ini, karena… gantian saya yang diajak kolaborasi 😀

Sebenarnya tidak tepat juga dibilang ‘baru’, karena EBA sendiri sudah ada selama belasan tahun, namun dulu hanya ditawarkan pada institusi saja. Barulah sejak 2018, muncul edisi ‘ritel’ yang ditawarkan kepada masyarakat umum. Hebatnya, hal ini bisa dibeli dengan dana 100.000 rupiah saja – jauh lebih kecil daripada surat berharga ritel yang membutuhkan minimum 1 juta rupiah.

Singkatnya, hal ini adalah instrumen investasi dengan karakteristik perpaduan antara reksadana dan obligasi negara. Kenapa demikian?

Memberikan imbal hasil pasti

Mirip dengan deposito, p2p lending, dan obligasi negara, instrumen investasi ini memberikan indikasi imbal hasil yang pasti dan tidak fluktuatif. Dengan pajak final 10% yang lebih rendah daripada tabungan dan deposito, Instrumen investasi ini memberikan imbal hasil bersih sekitar 5.2% sampai 6.1% per tahun.

Bisa dijual kapan saja, mirip dengan reksadana.

Meskipun memiliki imbal hasil pasti, satu hal unik pada instrumen investasi ini adalah likuiditasnya. PT. SMF (Sarana Multigriya Finansial) selalu penerbit tunggal EBA ritel menjadi standby buyer yang siap membeli kembali kapan saja – namun sesuai dengan harga yang terbentuk di market tentunya. Hal ini menjadikan instrumen investasi ini cukup likuid – mirip dengan beberapa seri SBR dan obligasi negara, dan berbeda dengan p2p lending serta deposito yang harus menunggu jatuh tempo terlebih dahulu.

KPR masyarakat umum menjadi underlying

EBA ritel adalah ‘pool’ dari pinjaman KPR banyak orang yang dikumpulkan dan dikemas sebagai surat utang. Mirip dengan reksadana pendapatan tetap yang menjadikan surat utang sebagai underlying. PT. SMF berkata bahwa sampai tulisan ini diterbitkan, mereka hanya mengambil KPR dari 2 bank saja yaitu BTN untuk pinjaman konvensional dan BSI untuk pinjaman syariah, itupun masih diseleksi ulang berdasarkan profil kreditur dan disegmentasi berdasarkan daerah properti untuk meminimalkan risiko.

EBA ritel memiliki rating Pefindo AAA, meskipun tidak ada jaminan aman 100%

Sejauh ini, dari seluruh 3 seri EBA ritel yang ada di pasaran, semuanya memiliki rating risiko AAA dari Pefindo (agensi penilaian kredit di Indonesia). Hal tersebut menandakan bahwa risiko kredit macet yang menjadi underlying EBA ritel cukup rendah, meskipun saya menghimbau juga tidak sepenuhnya percaya pada penilaian Pefindo karena di masa lampau ada saja surat utang yang bermasalah meskipun mendapatkan penilaian bagus dari Pefindo.

Sifat EBA ritel yang menjadi “pool” banyak KPR seharusnya juga berperan memitigasi risiko gagal bayar dari underlying, dimana kalau ada salah satu kreditur yang macet, hanya berpengaruh sedikit pada harga market maupun indikasi yield didalam seri EBA ritel tersebut

Kesimpulan

Tulisan ini bukan promosi ataupun himbauan membeli. Tidak ada link referral dan tidak ada keuntungan yang saya dapatkan bila anda membeli EBA Ritel. Kendati demikian, saya menilai EBA ritel punya potensi masuk sebagai instrumen investasi baru di portfolio banyak orang untuk menggantikan ‘posisi kosong’ yang ditinggalkan p2p lending selama tahun 2023

Bila dibandingkan dengan investasi lainnya

Meskipun imbal hasilnya tidak setinggi p2p lending, namun EBA ritel juga jauh lebih aman dan lebih likuid. Saya menilai EBA ritel menjadi alternatif yang lebih menarik daripada reksadana pendapatan tetap (yang imbal hasilnya penuh ketidakpastian) maupun tabungan bank digital yang bunganya terus turun (menyesuaikan LPS). Bahkan bunga deposito BPR saja bila dihitung secara nett sulit mengalahkan indikasi imbal hasil dari hal ini.

Sebagai catatan, bunga deposito BPR yang dijamin LPS adalah 6.75%, dengan pajak 20% berarti nett 5.4%. BIla tidak ada promo cashback tambahan atau hadiah lainnya, maka indikasi return ini masih kalah dengan EBA ritel seri SMFBTN07A yang memberikan imbal hasil bersih 6.1%.

Bila dibandingkan dengan Surat Berharga Negara dan Obligasi

Maka akan lebih sulit perhitungannya, karena kita harus menilai satu-satu seri surat utang mana yang dibandingkan – kapan mereka jatuh tempo? Berapa indikasi yield dan harga beli saat ini? Serta ada juga surat berharga ritel yang memiliki bunga floating.

Bagi saya sendiri, EBA ritel bukan hadir menggantikan surat utang jenis lainnya, melainkan hadir sebagai opsi baru untuk diversifikasi saja. Dengan kata lain, saya merekomendasikan untuk tetap memegang Obligasi dan SBN, namun boleh menambahkan instrumen investasi ini sebagai bagian dari portfolio anda.

Dimana bisa membeli EBA ritel?

Sayangnya, saat ini instrumen investasi ini hanya bisa dibeli di BIONS saja, yakni sekuritas bank BNI. Sebentar lagi akan menyusul ditawarkan di sekuritas bank BRI, dan PT. SMF berkata bahwa tahun ini mereka menargetkan menjalin kerjasama dengan lebih banyak sekuritas.

Adrian Siaril
Adrian Siaril

The boss

Articles: 599

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.