selective focus photography of man holding bible

Pertanyaan untuk Penginjilan

Tulisan ini penuh sinisme dan kesesatan. Apabila anda tidak cukup intelek untuk memahami sarkasme dan berpikiran luas, maka tinggalkan halaman ini. Blog ini bukan blog religius untuk memperkuat iman anda.

Sebenarnya saya malas menulis opini religius lagi di blog ini, karena selain sedikit yang membaca, juga mengundang kaum-kaum fanatik yang hobinya berdebat tanpa logika. Berdebat soal finansial itu seru karena membandingkan data dan pengalaman, tapi memperdebatkan soal agama rasanya seperti anak kecil yang memperebutkan sekeping permen (hanya menggunakan emosi, tanpa logika).

Namun gimana ya, sesekali saya haus akan konflik dan tangan saya gatal menulis tulisan yang menyentil beberapa pihak sambil membuat tertawa pihak lainnya, dan hal itulah yang saya harap bisa dicapai oleh tulisan kali ini.

Bacaan misa Katolik hari ini fokus pada tugas penginjilan ‘menjala manusia’ serta akhir zaman. Bisa disimpulkan bahwa hampir seluruh golongan Kristiani pernah diajarkan untuk ‘mengkonversi’ orang sebanyak mungkin sebelum akhir zaman tiba, untuk ‘menyelematkan’ sebanyak-banyaknya orang.

Namun misi penginjilan ini memiliki banyak kontradiksi yang sulit dijawab secara teologis maupun praktis.

Tujuan Penginjilan

Tujuan penginjilan dan menjala manusia semakin ambigu seiring dengan bertumbuhnya cabang kepercayaan Kristiani. Misi orang Kristen yang semula bertujuan mengenalkan Yesus mulai berganti menjadi “buat orang masuk gereja saya”. Saya selalu bercanda ketika orang menyebutkan kriteria pasangan ideal “SEIMAN”, karena saya pasti akan tanya dia begini:

“Mau satu iman, satu agama, atau satu gereja”

Tiga hal tersebut berbeda. Satu iman belum tentu satu agama, dan satu agama belum tentu satu gereja.

Jadi, penginjilan saat ini yang mana tujuannya? Membuat semua orang mengimani Yesus? Membuat sensus penduduk jadi 100% Katolik atau Protestan? Atau sekedar membuat gereja denominasi tertentu ramai? Saya pernah mengikuti ibadah di salah satu gereja dan diberi tugas untuk “membawa satu orang menjadi umat gereja ini dalam 1 bulan kedepan”. Waduh, jadi kaya target sales dong ya.

Sasaran Penginjilan

Dalam Alkitab, Yesus berpesan untuk menyebarkan kabar gembira sampai ke ujung dunia. Hal tersebut sudah tercapai saat ini, apalagi dengan peran internet. Orang non Kristiani dan atheis sekalipun tahu soal Yesus, meskipun ada yang memilih tidak mempercayainya. Artinya, ujung dunia sudah mendengar firman Tuhan, meskipun tentu tidak 100% populasi sudah. Kita bisa ambil contoh bangsa primitif di pedalaman hutan Amazon, atau kaum Sentinel di pulau negara India, yang kebetulan pernah membunuh seorang penginjil ketika dia nekat mau masuk ke pulau tersebut.

Mungkinkah akhir zaman dimulai ketika kaum-kaum primitif seperti itu sudah mendengar soal injil Kristen?

Di sisi lain, golongan Kristen tertentu sepertinya terlalu fanatik dengan tugas penginjilan ini, dengan malah mengalokasikan anggaran besar-besaran untuk menyebarkan injil di tempat yang justru sudah banyak orang percaya. Sebut saja golongan Mormon yang malah bertebaran di negara-negara yang justru memiliki mayoritas penduduk Kristiani. Bukankan Yesus sendiri berkata untuk menjadi terang di tempat gelap? Karena apa gunanya menjadi lentera di tempat terang? Kecuali, memang salah tujuannya (silahkan lihat poin sebelumnya)

Alasan Penginjilan

Memaksa orang mengikuti kepercayaan kita justru bertentangan sekali dengan prinsip Free Will yang diberikan Tuhan kepada manusia. Bahkan agama Muslim saja sangat menghormati prinsip ini dengan ucapan “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Jadi kenapa kaum Kristen sangat kekeuh harus membuat semua orang mengakui Yesus sebagai juruselamat mereka?

Dalam film komedi Bruce Almighty bahkan Tuhan hanya memberikan restriksi kepada karakter Jim Carrey untuk tidak melanggar prinsip Free Will saat menjalani tugas sebagai Tuhan.

Sekeras apapun usaha kita menjala manusia, namun Tuhan yang tetap berkehendak bukan? Kita pun sebagai orang bisa percaya karena anugerah Tuhan, bukan karena memilih sendiri. Jadi, kenapa memaksakan bahwa orang sekitar kita harus ikut percaya Yesus, kalau bahkan Tuhan sendiri mengkehendakinya?

Tuhan sendiri menghendaki lho bahwa di akhir zaman harus ada yang tertinggal karena tidak percaya. Baca poin selanjutnya.

Hasil Penginjilan

Di Alkitab sendiri sudah diramalkan bahwa di akhir zaman akan banyak orang yang ‘tertinggal’, dan ‘tidak diselamatkan’ karena tidak percaya. Kalau kita berhasil membuat 100% populasi dunia ini menjadi pengikut Kristus, maka siapa yang akan menjadi penggenap firman sebagai antagonis tersebut?

Jadi hasil akhir apa yang diharapkan dalam tugas penginjilan? Apakah ada benchmark di Alkitab berapa persen populasi yang harus percaya, dan berapa sisanya yang kebagian peran menjadi antagonis? Mungkinkah justru sekarang sudah kebanyakan populasi Kristen sehingga akhir zaman tidak bisa terjadi karena kekurangan aktor antagonis, berarti harusnya lebih banyak orang yang murtad dari kepercayaan Kristiani?

Metode Penginjilan

Kaum Kristen senantiasa beradaptasi dengan perkembangan zaman untuk melakukan tugas penginjilan, mulai dari usaha door-to-door ala salesman, lewat televisi, bikin konser, bahkan sampai menyusup diam-diam ke car free day.

Bicara soal metode penginjilan, yang mana sih yang efektif? Kaum yang sempat menyusup ke car free day beberapa tahun lalu bukannya membuahkan hasil positif namun malah memancing emosi dari agama lain karena dituduh melakukan Kristenisasi terselubung, sampai-sampai masuk dokumentasi di Youtube dan isinya komentar marah-marah ke kaum Kristen semua. Saya ingat sekali top comment nya waktu itu adalah “katanya orang Kristen cinta damai, tapi kok malah seperti ini?” Akibatnya, gubernur Jakarta yang saat itu malah orang Kristen terpaksa melarang acara keagamaan dan acara politik

Nah, kalau sudah seperti itu, menurut anda tugas penginjilannya berbuah positif atau tidak? Bukankah malah merusak reputasi golongan Kristen secara umum ketimbang menuai hasil positif?

Siapa yang Menginjil?

Para kaum Kristen yang semangat menginjil mungkin lupa dengan kutipan Alkitab yang berbunyi “penyesatan akan terjadi di akhir zaman” ketika mereka melontarkan ceramah dengan isi “bertobatlah! Akhir zaman sudah dekat!”. Apakah jangan-jangan justru merekalah yang menjadi unsur kesesatan di masa sekarang?

Definisi periode akhir zaman tidak pernah jelas, beberapa golongan menganggap masih jauh di masa depan, beberapa lainnya berkata sudah didepan mata. Satu hal yang jelas bahwa sudah banyak waktu yang terlewat dari saat Yesus hidup sampai saat ini, dan penyesatan yang diramalkan di perjanjian baru nampaknya sudah banyak di sekitar kita.

Pertanyaannya: apakah kita di sisi yang benar, atau sisi yang salah?

Kesimpulan

Tidak ada kesimpulan dari tulisan ini. Tulisan ini hanya bertujuan untuk membuang – buang waktu anda, dan membantu sebagian orang untuk berpikir kritis dan tidak menjadi agamis fanatik yang mengabaikan akal sehat.

Tulisan ini bukan untuk menjadi alasan agar tidak menjalankan tugas penginjilan, dan menurut saya tugas penginjilan masih harus dilaksanakan namun dengan cara yang modern, bukan dengan teriak-teriak di jalanan, ketuk pintu orang tidak dikenal, atau bahkan menyelinap ke acara pemerintah.

Cara modern seperti apa? Wah, saya juga gatau deh. Mungkin …..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

LOOKING FOR ENGLISH CONTENT?

Except for the literature, all my Bahasa contents are translator-friendly, so you can summon the might of Google Translate below.

AUTO-TRANSLATE
CATATAN TERPOPULER