Cara Memilih Reksadana Terbaik di Bibit

Mencari kode referral Bibit untuk dapat modal gratis? Pakai kode saya saja UCLEIAF

Sering sekali di grup Telegram, Instagram, maupun media lainnya banyak orang bertanya REKSADANA APA YANG PALING BAGUS di Bibit.

Biasanya ada dua jenis jawaban yang kita temui:

  1. “Saya gabisa jawab karena tergantung kebutuhan anda, harus belajar cara memilih sendiri”.
  2. Menyarankan untuk mengikuti pilihan pribadi.

Saya jujur termasuk golongan yang kedua, karena saya yakin pilihan saya cukup oke, jadi apa salahnya berbagi? Tapi ya saya selalu bilang risiko ditanggung sendiri.

Nah di tulisan kali ini saya akan sedikit berbagi bagaimana sih memilih reksadana terbaik di Bibit dan juga mungkin anda bisa menerapkannya di APERD lain (APERD adalah singkatan dari Agen Penjual Reksa Dana)

Memangnya ada yang Jelek di Bibit?

Hal pertama yang harus kita akui pertama kali adalah bahwa Bibit sangat selektif dan bahkan bisa dibilang sombong oleh beberapa manajer investasi. Bibit menyeleksi ketat manajer investasi serta produk yang boleh dijual di Bibit. Manajer investasinya harus memiliki reputasi perusahaan yang sudah kuat, dan produk yang mau dijual harus memiliki performa yang bagus juga secara historikal.

Jadi berdasarkan hal ini sebenarnya aman untuk mengatakan bahwa semua produk di Bibit bagus.

Jadi yang kita perlu pilih adalah produk yang terbaik untuk kita.

Caranya?

Kalau anda tidak mau repot repot, pilih saja produk yang diberi tanda bintang oleh Bibit seperti contoh dibawah ini.

Contoh disini Manulife Obligasi Negara Indonesia II yang menjadi pilihan top si Robo

Produk yang diberi bintang oleh Bibit biasa memang yang terbaik dari segi return dan konsistensi.

Dengan bantuan robo yang sudah membantu kamu memilih rasio portofolio terbaik, rasanya tidak perlu khawatir lagi dengan tingkat risiko yang bisa kita toleransi. Jadi sekalipun Bibit memilihkan reksadana saham yang performanya sedang naik-turun, pasti return portofolionya diseimbangkan di pasar uang dan obligasi.

Bagaimana kalau mau memilih sendiri?

Saya mulai dari yang paling sederhana dan masuk akal dulu,

Pilih produk reksadana yang bank penampungnya sama dengan rekening yang kamu daftarkan di Bibit.

Hal ini untuk menghindari biaya transfer sebesar 2.500 sd 4.500 yang dikenakan oleh manajer investasi (bukan Bibit) ketika kamu mencairkan reksadana.

Biaya dibawah Rp5.000 mungkin saja kecil sekali untuk beberapa orang, namun bagi orang seperti saya yang investasi receh ratusan ribu, Rp5.000 berarti 5% dari Rp100.000 rupiah, yakni jumlah yang cukup besar! Bayangkan saja jika investasi saya Rp100.000 returnnya hanya 10 persen setahun, berarti yang saya terima bersih returnnya hanya 5% karena terpotong biaya transfer.

Bibit adalah satu satunya APERD yang sangat peduli soal biaya transfer ini, sampai repot-repot menginformasikan kita soal bank penampung setiap produk reksadana. Tidak ada APERD lain yang memiliki informasi ini.

Apa bedanya bank penampung dan bank kustodian?

Bank penampung digunakan manajer investasi untuk mentransfer hasil penjualan reksadana kita. Di Ajaib (kompetitor Bibit), mereka memiliki bank penampung untuk menerima dana karena semua rekening tujuannya adalah rekening BCA, sedangkan di Moinves semua rekening bank penampungnya jelas Bank Mandiri.

Sedangkan bank kustodian adalah bank yang berhak menyimpan uang kelolaan manajer investasi. Jadi uang kita hanya parkir sebentar di bank penampung sebelum pindah ke bank kustodian.

Alur nya kira-kira seperti ini saat proses pembelian reksadana:

Rekening kita –> Rekening penampung APERD –> Bank kustodian produk terkait (karena setiap produk bisa memiliki kustodian berbeda meskipun manajer investasinya sama).

Sedangkan saat penjualan alurnya seperti ini:

Bank Kustodian –> Rekening penampung APERD –> Rekening kita

Menurut saya siapa Bank kustodian nya tidak terlalu penting, yang penting bank penampungnya sama dengan rekening yang kita daftarkan di Bibit.

Lalu bagaimana mengecek bank penampung dan mengubah reksadana pilihan si robo sesuai dengan keinginan kita? Ikuti caranya dibawah ini:

Langkah pertama geser kebawah halaman utama Bibit sampai terlihat seperti ini, lalu tekan salah satu kolom di angka persentase
Langkah kedua akan muncul tampilan seperti ini. Anda bisa memilih yang tersaji disini atau menggeser kebawah sampai muncul tombol DISCOVER MORE untuk melihat lebih banyak pilihan
Langkah ketiga: dengan menekan tulisan LIHAT DETAIL pada halaman sebelumnya, anda akan disajikan halaman informasi ini yang ada informasi bank penampung

Bagaimana dengan Saya?

Rekening yang saya daftarkan di Bibit adalah BCA , sehingga produk pilihan saya adalah:

Pinnacle Money Market Fund (Pasar Uang), Schroder Dana Mantap Plus II (Obligasi), Sucorinvest Equity Fund (saham). Semuanya memiliki bank Penampung BCA.

Jadi hanya itu Saja?

Tidak, sebenarnya anda bisa menggunakan indikator-indikator dibawah ini untuk memilih reksadana yang terbaik:

  • Compound Annual Growth Rate dalam interval 3,5, bahkan 10 tahun
  • Melihat sharpe ratio
  • Melihat expense ratio
  • Melihat kewajaran AUM
  • Melihat track record manajer investasi
  • Mempelajari prospektus dan fund fact sheet
  • dan lain lain

Mulanya saya tidak mau bahas disini supaya tidak memusingkan. Nanti anda malah jadi takut berinvestasi.

Tapi semenjak tulisan ini dipublikasikan, banyak yang komplain: katanya tulisan ini troll, clickbait, dan kurang spesifik. Jadi bagi kalian yang merasa ingin tahu lebih lanjut, silakan baca lagi. Bila anda sudah puas dengan penjelasan diatas, berhentilah membaca.

Advertisements
Advertisements

Compound Annual Growth Rate (CAGR)

Data retur satu tahun itu sebenarnya tidak memberitahu kita informasi yang penting, karena bisa saja tahun lalu suatu reksadana memiliki persentase retur bombastis karena dua tahun sebelumnya dia justru jatuh parah.

CAGR ini mengambil rata-rata return tahunan lalu dibagi dengan jumlah tahun yang berjalan. Misalnya CAGR5 itu melihat data retur selama 5 tahun terakhir dan dirata-ratakan, sehingga memberikan gambaran yang lebih masuk akal tentang performa reksadana tersebut di jangka panjang.

Bagaimana CAGR yang bagus? Ya sama seperti return, makin tinggi persentasenya, makin bagus dan konsisten performa reksadananya.

Saya selalu merekomendasikan untuk meninjau CAGR 3 tahun, 5 tahun, 10 tahun, dan since inception, lalu semuanya dibandingkan. Apabila semua hasilnya positif dan konsisten maka sudah jelas reksadana tersebut sangat oke.

Misalnya untuk reksadana yang menunjukkan CAGR 3 tahun nya 15 persen, berarti satu tahun kira-kira dia dapat 5 persen maka CAGR 5 tahun nya saya harapkan menunjukkan angka setidaknya 25 persen atau lebih. Kalau dibawah 20 persen berarti ada yang salah dalam 5 tahun terakhir.

Untuk saham yang lebih volatile (tidak konsisten), biasanya saya akan lebih fokus ke CAGR 5 tahun dan since inception, yaitu CAGR yang memperhitungkan umur reksadana tersebut dari awal lahir. Alasannya reksadana saham itu memang untuk jangka panjang sehingga kita kurang bisa menggunakan CAGR 3 tahun yang kemungkinan besar menunjukkan persentase minus.

Sharpe Ratio

Jujur saya tidak menggunakan indikator ini meskipun banyak investor jagoan sangat suka mengandalkan indikator ini untuk memberikan rekomendasi profesional. Indikator ini bahkan tidak ada di Bibit dan bos Bibit sendiri bilang bahwa indikator ini memusingkan pemula dan tidak konsisten karena bisa berubah dalam hitungan hari.

Daripada saya kelihatan bodoh karena sok tahu, saya jujur saya bilang disini: saya gatau cara pakai sharpe ratio!

Advertisements
Advertisements

Expense Ratio

Expense ratio sangat penting namun malah tidak ada APERD lain selain Bibit yang memberikan indikator ini. Banyak reksadana yang memiliki retur tinggi namun ternyata juga menerapkan biaya manajemen yang tinggi sehingga retur yang kita terima bersih tidak maksimal.

Expense ratio yang disajikan Bibit sangat membantu. Saya tidak tahu bagaimana orang lain menggunakan indikator ini secara profesional. Saya hanya menggunakannya secara sederhana yaitu 1 year return dikurangi dengan expense ratio untuk mendapatkan ekspektasi return yang lebih bersih.

Misalnya reksadana A punya 1 year return 15% dan expense ratio 3 persen,

Dan reksadana B punya 1 year return 14% dan expense ratio 1%,

Maka jelas reksadana B yang lebih baik karena net returnnya 13%, lebih tinggi daripada reksadana A yang net returnnya hanya 12%.

Berdasarkan informasi dari Paskalis Investment di kolom komentar, rumus expense ratio Bibit adalah:
(Management Fee + Custody Fee + Others – Final tax) ÷ rata-rata AUM 1 tahun.

Hal ini berarti rumus yang saya jabarkan diatas memang sudah cukup benar karena expense ratio berbasis pada pengeluaran reksadana terkait selama 1 tahun yang mengurangi retur selama 1 tahun juga.

Advertisements
Advertisements

Melihat Kewajaran AUM

Indikator kali ini adalah yang paling subjektif karena setiap orang punya pendapat masing-masing perihal AUM yang ideal untuk produk reksadana.

Terlalu tinggi AUM berarti reksadana tersebut tidak bisa bergerak gesit untuk bertumbuh, namun bila terlalu rendah patut dicurigai kenapa tidak banyak yang berinvestasi disana (apalagi jika umur reksadananya sudah tua)

Bicara soal AUM terlalu tinggi, hal ini disebabkan adanya aturan dari OJK yang melarang suatu reksadana untuk memiliki terlalu banyak porsi saham dalam portfolio mereka, agar tidak memiliki bentrok kepentingan (conflict of interest). Sehingga bila AUM terlalu tinggi, bisa dibilang manajer investasi akan ‘kebingunan’ harus menaruh uang nya kemana. Mungkin ke saham yang sebenarnya kurang bagus?

AUM yang sangat tinggi juga menyeramkan karena memberikan exit load yang berat untuk manajer investasi tersebut. Maksudnya, apabila mendadak suatu hari semua investor mau mencairkan porsi mereka di reksadana tersebut, pasti manajer investasi akan kesulitan mencairkan aset-aset mereka untuk membayar para investor. Karena adanya aturan dari OJK bahwa penjualan harus dibayar maksimal 7 hari kerja, maka pasti akan terjadi sedikit atau banyak banting-banting harga agar asetnya bisa cair ke tangan investor.

Bagi saya pribadi, AUM yang ideal adalah diatas 10 milyar namun
dibawah 1 triliun.

Melihat Track Record Manajer Investasi

Seperti yang sudah saya bahas paling atas bahwa semua manajer investasi yang kerjasama dengan Bibit sudah diseleksi yang terbaik, jadi tidak perlu dibahas disini. Apabila anda memang kepo dan mau research lebih lanjut maka tentu bisa melihat umur manajer investasi tersebut, reputasi perusahaannya, serta berita-berita yang terkait dengan mereka.

Advertisements
Advertisements

Mempelajari Prospektus dan Fund Fact Sheet serta Laporan Bulanan

Ini adalah yang paling dasar tapi paling malas dilakukan semua orang, padahal di dalam dokumen-dokumen tersebut dijabarkan strategi investasi reksadana tersebut, aset-aset utama yang dimiliki, sejarah retur sejak lahir, komentar manajer investasi, dan informasi lainnya seperti bank kustodian dan umur reksadana tersebut.

Karena CAGR biasanya sudah disajikan diluar dokumen dokumen itu, maka informasi yang menurut saya paling penting adalah top holdings dan investment strategy.

Top holdings memberitahu aset apa saja yang menjadi komposisi utama reksadana tersebut, misalnya saham blue chips, mid cap, atau small cap. Apabila reksadana tersebut mengandung banyak saham blue chips maka kemungkinan besar volatilitasnya lebih terkontrol, sedangkan kalau banyak small caps kemungkinan akan sering naik turun karena saham small caps identik dengan materi gorengan.

Ada juga yang bertanya bagaimana tahu apakah suatu saham masuk kategori big, medium, atau small caps. Jawabannya sederhana yaitu tinggal Googling, karena saham yang masuk daftar setiap kelas akan berubah seiring waktu.

Sedangkan investment strategy memberikan gambaran soal strategi manajer investasi yang diterapkan di reksadana tersebut, misalnya mencoba mengikuti gerakan index, atau mencoba mengalahkan index.

Mengikuti gerakan index berarti strateginya lumayan pasif untuk memastikan stabilitas jangka panjang. Misalnya ingin mengikut index IDX30, maka manajer investasi akan melihat IDX30 mengandung saham industri apa saja. Contohnya 6 perbankan, 4 konstruksi dan 2 konsumen. Maka index tersebut mungkin juga memasukkan 3 saham perbankan, 2 konstruksi, dan 1 konsumen (jumlah berbeda namun rasio sama yaitu 3:2:1).

Apabila ingin mengalahkan index berarti manajer investasinya akan bermain sedikit agresif dengan memanfaatkan saham mid caps dengan volatilitas yang lebih tinggi. Sesuai dengan prinsip high risk high return, berarti risikonya akan meningkat namun kemungkinan imbal hasilnya lebih tinggi juga.

About asiaril

Tulisan saya adalah opini pribadi yang tidak memiliki kredibilitas apapun. Kerugian dalam bentuk apapun yang timbul akibat membaca tulisan saya (misalnya buang buang waktu) sepenuhnya menjadi tanggung jawab anda. Apabila anda tidak suka dengan karya saya, janganlah marah kepada saya, namun pukullah layar komputer anda dengan linggis.

6 Responses

  1. Budiman Nugroho

    Saya juga termasuk ga setuju kalau melihat reksadana terbaik di bibit hanya berdasarakan bank custodian saja, karena toh biaya transfer kustodian nilainya kecil sekali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.