Photo by Michelle Leman from Pexels

Copy trade vs Algo Trade – Mana yang Menang?

Topik ini juga tersedia dalam bentuk Video Youtube

Topik ini sebenarnya sudah pernah saya singgung waktu awal-awal menulis soal autotrade atau robot forex, namun akan saya bahas lagi secara terpisah, karena saya cukup kesal melihat sales robot forex merk A yang menjelekkan brand lainnya dan menuding bahwa algo trade lebih bagus dari copy trade, maupun sales merk B yang berkata sebaliknya.

Keduanya memiliki keunggulan maupun kekurangan masing-masing, dan keduanya juga memiliki risiko yang sama. Membahas mana yang lebih unggul tidak ada bedanya dengan mencoba membandingkan analisa fundamental maupun teknikal dalam dunia saham.

Algo Trade

Algo trade mengeksekusi buka maupun tutup posisi berdasarkan analisa teknikal. Analisa teknikal yang digunakan tergantung pada pencipta botnya. Bisa saja martingale, elliot wave, single entry, multiple entry, dan lain-lain. Saya sendiri bukan ahli di analisa teknikal, jadi tidak tahu apa saja rumus yang bisa dipergunakan.

Algo trade konvensional menggunakan robot yang harus kita install dan host pada VPS (virtual private server) dan memerlukan sedikit pengetahuan teknis untuk disetel terlebih dahulu. Algo trade yang lebih modern biasanya sudah bekerjasama dengan broker tertentu sehingga tidak memerlukan proses setup yang ribet, kita hanya tinggal terima beres saja. Jenis robot seperti ini yang sering dituding money game.

Kelebihan

Algo trade mengeliminasi kelemahan psikologis seorang trade sehingga sangat disiplin dalam melakukan take profit maupun cutloss. Ini adalah keunggulan utama algo trade.

Selain itu, algo trade bisa diatur untuk bekerja tanpa henti, alias 24 jam selama market buka terus. Karena tidak bergantung pada manusia sama sekali, algo trade bisa bekerja terus-menerus tanpa istirahat ataupun ‘merasa lelah’.

Algo trade memiliki banyak cara kerja tergantung pada penciptanya, dan bahkan beberapa bisa diatur sesuai keinginan pengguna. Hal ini berarti pengguna memiliki fleksibilitas dalam memilih algotrade yang sesuai dengan profil risiko mereka.

Algo trade yang canggih bisa menggabungkan beberapa metode analisis sekaligus dan bahkan menggunakan AI learning, jadi algotrade semakin hari semakin bagus dan berkembang.

Kekurangan

Algo trade cenderung kurang optimal saat market memilik volatilitas tinggi, karena pergerakannya terlalu cepat dan tidak terprediksi. Akibatnya, algoritma bisa salah membaca trend dan melakukan cutloss terus-menerus.

Algo trade juga menjalankan rumus yang diajarkan penciptanya, dan rumus ini memiliki efektifitas berbeda-beda tergantung aturan si penciptanya. Contoh, apabila si pencipta algotrade menggunakan rumus sederhana martingale atau average down, maka bot akan efektif saat market downtrend. Sedangkan saat market sedang sideways, rumus ini tidak akan efektif.

Algo trade juga tidak dapat membaca indicator makro dan berita yang mungkin berpengaruh terhadap pergerakan harga suatu pairing. Meskipun sekarang ini saya mendengar bahwa ada juga robot-robot modern yang kinerjanya mendapatkan bantuan intervensi manusia atau sudah mengalami perkembangan teknologi sehingga bisa membaca berita.

Terakhir, algo trade harus di maintain agar tetap efektif, melalui pembaharuan algoritma maupun pembaharuan cara kerja.

Copy trade

Copytrade adalah menyalin transaksi trader rujukan. Kalau dia buka posisi, kitapun buka posisi. Kalau dia tutup posisi, kita ikutan tutup juga. Sederhana seperti itu. Jadi, yang melakukan transaksi juga sesama manusia,

Copy trade konvensional menyuruh kita menyalin transaksi secara manual, dan kita harus memantau instruksi trader rujukan. Copytrade yang lebih modern sekarang menggunakan banyak otomasi seperti PAMM atau MAM, subscribe signal MQL5, dan lain-lain sehingga lebih praktis. Bahkan ada copytrade yang menggunakan sistem titip dana sehingga menimbulkan kecurigaan.

Kelebihan

Kita menyalin orang yang pasti sudah memiliki track record yang ahli dibidangnya. Sebagai manusia, ia juga bisa menggunakan beberapa metode analisa sekaligus seperti faktor berita dan makro atau bahkan insider news, sehingga keputusannya berdasar pada lebih banyak data.

Sebagai manusia, trader rujukan kita juga memiliki kemampuan adaptasi, sehingga kalau kondisi market kurang kondusif, ia bisa saja memutuskan untuk tidak trading guna meminimalkan risiko.

Copytrade juga tidak menggunakan software robot sehingga tidak perlu di maintain atau di update algoritmanya. Kalau trader rujukan menggunakan software untuk membantu dirinya, maka itu urusan dia bukan urusan kita.

Trader rujukan copytrade juga memiliki target atau kepentingan untuk memberikan kita cuan, karena kalau kita cuan, dia juga cuan (dapat gaji dari kita). Jadi bisa dipastikan ia mengusahakan yang terbaik.

Kekurangan

Meskipun lebih hebat dari kita, trader rujukan pun merupakan manusia yang tak luput dari tekanan psikologis, sehingga iapun bisa ikut salah dalam hal membaca trend sampai mengambil keputusan. Apalagi kalau ia sendiri sedang ada masalah hidup yang mungkin berpengaruh pada performanya.

Ada juga copytrade nakal yang bekerjasama dengan broker sebagai market maker, jadi sesekali membuat penggunanya kalah guna mendapatkan keuntungan yang dibagi dua dengan broker. Ibaratnya sudah diatur, kalau mau menang transaksi akan dilempar ke LP (liquidity provider), tapi kalau kalah akan dimakan sendiri. Jadi ketimbang memenuhi target untuk penggunanya, copytrade nakal seperti ini memenuhi target untuk si broker bandar.

Dalam copytrade kita tidak memiliki pilihan untuk mengubah strategi – nasib trade kita ditangan trader rujukan. Jadi kalau tidak cocok dengan rujukan yang sekarang, kita harus ganti rujukan lain.

Apa yang sama dari keduanya?

Keduanya tak luput dari risiko rugi sampai margin call, tidak ada yang menjamin untung tanpa kalah sama sekali.

Margin call sendiri terbagi dua, margin call asli atau margin call palsu yang dibuat-buat.

Kalau margin call asli, maka bisa terjadi bila rumus algotrade salah membaca trend sehingga tidak melakukan cutloss sama sekali, atau bila si trader rujukan copytrade tidak mau melakukan cutloss dan bertahan pada posisi floating terlalu besar.

Sedangkan kalau margincall yang palsu, ya itu memang sengaja dibuat untuk merugikan kita semua, apapun metodenya.

Jadi, apapun metode autotrade yang kalian pilih, tetap terapkan manajemen risiko ya. Jangan menggunakan uang panas, dan jangan menaruh semua uang di satu merk/layanan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.