Wawancara CEO Komunal Hendry Lieviant

Rangkuman yang tersaji disini adalah hasil dari diskusi Instagram Live yang saya adakan bersama CEO Komunal Hendry Lieviant di tanggal 7 Mei 2021.

Bagaimana Komunal bisa punya fans klub tersendiri?

Pak Hendry mengaku bahkan tidak tahu soal keberadaan fans club Komunal di grup Telegram yang secara aktif mempromosikan brand nya. Pak Hendry merasa tidak melakukan apa-apa untuk menggaet loyalitas lender retail.

Mengapa Komunal berani mulai di luar Jabodetabek? Padahal hampir semua penyelenggara mulai di Jabodetabek sebagai pasar yang ramai.

Komunal memilih strategi blue ocean dimana suatu bisnis menggarap market yang memang belum digarap orang lain, ketimbang bertarung di market red ocean yang persaingannya sudah berdarah-darah.

Menurut salah satu lender institusi Komunal, borrower yang terdapat di Komunal tidak meminjam di penyelenggara lain sehingga risikonya lebih rendah.

Bagaimana menghadapi pandemi 2020 yang membuka borok banyak penyelenggara p2p?

Tidak ada strategi khusus yang dilakukan ataupun disiapkan, namun pak Hendry mengakui Komunal saat itu cukup beruntung karena portfolio nya belum terlalu besar sehingga muda dikelola.

Selain itu, menurut pak Hendry, kredit macet yang muncul justru karena hasil dari ‘self-fulfilling prophecy’ yang diakibatkan oleh ketidakpastian: Karena bank dan institusi finansial lainnya tidak yakin seberapa besar dampak pandemi, maka mereka menghentikan penyaluran kredit. Penghentian kredit ini justru melambatkan gerakan roda ekonomi yang malah membuat dampak negatif.

Peminjam di produk ini sendiri mayoritas tidak terdampak oleh pandemi dan justru mengandalkan Komunal sebagai pihak yang masih mau melakukan pencairan kredit demi menjaga kelangsungan usaha UKM.

Komunal juga menginformasikan bahwa lender mereka dulu sampai saat ini mayoritas terdiri dari ritel, dan bahkan ketika pandemi pun yang rajin mendanai adalah ritel. Tidak ada juga strategi khusus yang dilakukan Komunal untuk meyakinkan lender agar tetap mendanai di masa ketidakpastian.

Sudah berapa banyak pinjaman macet yang sampai tahap klaim asuransi gagal bayar?

Bisa dihitung dengan jari. Meskipun pak Hendry mengakui keterlambatan bayar memang terjadi, namun ujung-ujungnya pasti dibayar (tidak berujung pada default).

Komunal memastikan invoice yang dijaminkan memiliki payor yang memang memiliki rekam jejak baik (perusahaan besar), dan membuka rekening bersama atas nama Komunal+borrower untuk memastikan bahwa borrower tidak menyalahgunakan pembayaran yang sudah diterima dari payor.

Dalam hal ini, Komunal berharap lender mempercayai proses due dilligence dan analisis kredit yang sudah dilakukan oleh tim Komunal, tanpa perlu meminta ‘bongkar dapur’ ataupun identitas sang borrower (karena hal ini juga dilarang OJK).

Komunal tidak terlalu mengandalkan atau menggembor-gemborkan penggunaan teknologi sebagai credit scoring, namun lebih percaya dengan analisa manusia. Saya sangat mendukung hal ini, karena saya pernah mengenal p2p lending yang mengandalkan “AI 7 lapis” namun ujung-ujungnya terjadi gagal bayar juga.

Adakah karakteristik khusus borrower?

Peminjam P2P umumnya adalah kaum unbankable dan kaum underbank. Underbank berbeda dengan unbankable karena sudah memiliki akses ke produk perbankan, namun kebutuhannya masih belum terpenuhi karena limit yang diberikan bank kurang mencukupi.

Meskipun menerima kedua jenis segmen tersebut, Komunal memiliki lebih banyak kaum underbank daripada unbankable. Saya rasa hal ini sesuai dengan segmen utama yang bermain di UKM. Kaum unbankable biasanya lebih umum ditemui di segmen mikro ketimbang UKM.

Adakah karakteristik khusus lender?

Secara tipikal sama dengan penyelenggara lain yakni didominasi generasi X, Y, dan Z

Bagaimana Keseimbangan Borrower dan Lender hari ini?

Hal ini berubah-ubah setiap minggunya, dan bahkan dalam hitungan hari. Tidak ada hal khusus yang dilakukan Komunal untuk mengontrol keseimbangan ini.

Bagaimana menghadapi lender yang membandingkan p2p produktif dan konsumtif?

Memberikan pengertian secara logical bahwa high risk berarti high return. Bila meminta retur diatas 20% p.a, maka berarti Komunal harus rela menerima borrower yang tidak diterima oleh BPR sekalipun, karena tingkat risikonya terlalu tinggi. Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa Komunal fokus pada segmen underbank, bukan unbankable.

Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah biaya operasional yang perlu ditanggung oleh penyelenggara. Apabila retur terlalu tinggi diberikan ke lender, penyelenggara bisa jadi tidak sustainable.

Tren sekarang crypto dan saham, gimana pandangan anda –apakah masa panas p2p lending sudah usai? 

Karakteristik risiko yang berbeda tentu menarik untuk golongan masing-masing. Diversifikasi tentu masih menjadi kunci meminimalkan risiko. Menurut Pak Hendry, p2p lending malah salah satu instrumen investasi yang cukup kebal terhadap pengaruh luar. Saat ekonomi lesu, p2p lending tidak terlalu terdampak. Saat harga komoditas turun, p2p tentu tidak terdampak sama sekali. Hal ini cukup terbukti di pandemi 2020 kemarin dimana hanya sedikit peminjam maupun penyelenggara yang terdampak.

Bagaimana Membedakan diri dari Pemain Lainnya?

Sesuai dengan identitas sebagai ‘pemain luar Jabodetabek’, produk ini akan fokus kerjasama dengan local partner untuk jangka panjang (misalnya dengan koperasi). Ada juga rencana bekerjasama dengan BPR sehingga lender Komunal bisa ‘mendanai’ deposito BPR yang dijamin oleh LPS.

Pak Hendry senantiasa berharap bahwa Komunal tumbuh bersama komunitas lender retailnya, tanpa terlalu bergantung pada lender institusi.

Adrian Siaril
Adrian Siaril

The boss

Articles: 588

3 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  1. Can I just say what a relief to find someone who actually knows what theyre talking about on the internet. You definitely know how to bring an issue to light and make it important. More people need to read this and understand this side of the story. I cant believe youre not more popular because you definitely have the gift.