Preview: FUNDnesia – Ga Terdaftar tapi Ga Masalah

Preview: FUNDnesia – Ga Terdaftar tapi Ga Masalah

Tulisan ini masih preview, bukan review. Artinya saya belum menggunakan cukup lama untuk membuat review mendetail, atau justru si website yang di review ini belum cukup mapan untuk direview secara penuh. Preview memiliki format yang lebih singkat.

Siapa sih FUNDnesia?

FUNDnesia adalah pemain fintek baru di segmen produktif syariah. Minimnya penyelenggara fintek syariah dan begitu besarnya kebutuhan akses permodalan para pelaku UMKM yang belum terpenuhi terutama di sektor Pertanian dan Perikanan menjadi latar belakang berdirinya FUNDnesia. Para pendiri FUNDnesia adalah para praktisi yang sudah malang melintang dengan keahlian di bidang keuangan (khususnya di bidang teknologi finansial dan Industri Keuangan Non-Bank), agrikultur dan juga UMKM.

Dalam penulisan preview ini, saya bertemu dengan manajemen FUNDnesia untuk melakukan wawancara tatap muka.

Legalitas FUNDnesia

FUNDnesia BELUM terdaftar OJK, namun tidak perlu khawatir karena FUNDnesia bukan investasi illegal atau bodong. Ada alasan kenapa FUNDnesia belum terdaftar di OJK:

FUNDnesia awalnya sudah mengumpulkan berkas pendaftaran ke OJK atas rekomendasi AFPI, namun sebelum berkas selesai diproses, OJK sudah keburu melakukan suspensi sementara atas pendaftaran p2p lending. Sehingga FUNDnesia memilih alternatif untuk pivot ke project financing dibawah otoritas AFSI (Asosiasi Fintech Syariah Indonesia) dan IKD (Inovasi Keuangan Digital). FUNDnesia saat ini sudah mendapatkan 2 orang Dewan Pengawas Syariah (DPS) dan rekomendasi dari DSN-MUI.


Saat ini FUNDnesia, berfokus kepada project financing. Namun kedepannya tetap akan mendirikan kegiatan usaha p2p lending dibawah pengawasan OJK sehingga memiliki dua cabang usaha sesuai dengan model bisnis masing-masing industri tersebut.

Produk Pinjaman Fundnesia

Saat ini baru ada dua perusahaan yang bekerjasama dengan FUNDnesia. Dua perusahaan tersebut masing-masing menggalang satu pendanaan. Perusahaan di bidang pertanian menggalang untuk project financing dengan tenor yang lebih panjang (6 bulan) sedangkan perusahaan di bidang perikanan menggalang untuk invoice financing dengan tenor 3 bulan.

Karena FUNDnesia mengedepankan prinsip syariah, maka FUNDnesia sangat transparan soal identitas borrower maupun offtaker nya. Hal ini menurut saya merupakan ‘blessing in disguise’ yang pasti menjadi poin plus untuk lender. Detail mengenai borrower ini dapat dicek melalui website Fund nesia.

Salah satu borrower juga ‘rajin’ meminjam di p2p lending lainnya. Hal ini menurut saya pedang bermata dua: Positifnya, si borrower ini sudah punya hubungan yang baik dengan industri p2p lending, karena kalau dia pernah bermasalah sudah jelas di blacklist dalam FDC/Pusdafil (pusat data fintek) sehingga ga mungkin jadi borrower di FUNDnesia. Sisi negatifnya, kalau amit-amit si borrower ini macet, maka yang terkena dampaknya adalah lender di FUNDnesia maupun lender di p2p lending lainnya tersebut. Paling apes ya orang yang mendanai borrower ini di dua platform berbeda.

Mitigasi Risiko FUNDnesia

Sama seperti fintek berbasis syariah lainnya, FUNDnesia pun belum bisa memanfaatkan asuransi kredit karena satu dan lain hal. Sehingga mitigasi risiko dilakukan sepenuhnya sebelum dan saat pendanaan sudah dicairkan, antara lain:

  1. Ada akad yang melarang pengalihan proyek ke perusahaan lain
  2. Corporate dan personal guarantee
  3. Giro/cek mundur
  4. Klausul lain dalam akad yang mengikat secara moral
  5. Melakukan monitoring secara berkala baik di lokasi bisnis borrower

Aspek Syariah FUNDnesia

FUNDnesia akan sepenuhnya menggunakan akad syariah dalam operasionalnya, hal ini berarti:

  1. Pengenaan denda keterlambatan tidak bisa compounding berdasarkan persentase, namun menggunakan prinsip “ganti rugi”. Misalnya, karena keterlambatan maka tim FUNDnesia harus mengirim orang untuk berdiskusi, maka biaya transportasi orang tersebut bisa dikenakan sebagai denda. FUNDnesia memiliki diskresi penuh apakah denda tersebut menjadi hak lender atau hak FUNDnesia.
  2. Akad perjanjian yang tidak bisa multi tafsir dan menjunjung transparansi (misalnya segala sesuatu ditulis dalam format angka dan tanggal yang pasti, bukan persentase)
  3. Kendati demikian FUNDnesia menjamin bahwa prinsip Syariah ini tidak mempengaruhi kenyamanan lender, tidak peduli apakah mereka Muslim atau nonmuslim.

FUNDnesia akan sepenuhnya menggunakan akad syariah dalam operasionalnya, hal ini berarti:

  1. Pengenaan denda keterlambatan tidak bisa compounding berdasarkan persentase, namun menggunakan prinsip “ganti rugi”. Misalnya, karena keterlambatan maka tim FUNDnesia harus mengirim orang untuk berdiskusi, maka biaya transportasi orang tersebut bisa dikenakan sebagai denda. FUNDnesia memiliki diskresi penuh apakah denda tersebut menjadi hak lender atau hak FUNDnesia (tergantung dari kerugian biaya yang terjadi akibat kelalaian borrower).
  2. Akad perjanjian yang tidak bisa multi tafsir dan menjunjung transparansi (misalnya segala sesuatu ditulis dalam format angka dan tanggal yang pasti, bukan persentase)
  3. Kendati demikian FUNDnesia menjamin bahwa prinsip Syariah ini tidak memperngaruhi pengalaman lender, tidak peduli apakah mereka Muslim atau nonmuslim.

Aspek Unik FUNDnesia

Pemain di sektor pendanaan produktif sudah kelewat banyak, dan yang berbasis syariah pun mulai bermunculan. Jadi saya tanya apa perbedaan FUNDnesia. Mereka menjelaskan masterplan yang sifatnya konfidensial, sehingga saya hargai tidak akan saya jabarkan disini. Namun ada yang boleh saya sampaikan:

Kedepannya FUNDnesia akan menyasar industri Pendidikan, Supply Chain, dan agrikultur sekaligus. Model bisnis ini terinsipirasi dan merupakan modifikasi dari beberapa produk existing player yang sudah ada.

Status FUNDnesia yang masih baru juga berarti belum memiliki banyak lender, sehingga bila anda bergabung menjadi lender disini sudah pasti merasakan pelayanan yang personal tanpa harus menjadi investor kakap dahulu.

Kesimpulan

FUNDnesia memang masih baru dan tentu belum bisa direkomendasikan untuk mayoritas lender, tapi saya bisa pastikan FUNDnesia bukan investasi illegal atau bodong. Saya sendiri sudah mendanai disini hanya dengan sedikit dana, dan saya tidak takut sama sekali.

Alasannya, saya sudah tegaskan berkali-kali bahwa legalitas OJK bukan aspek penting bagi saya. Saya sebelumnya mencoba Asetku, iGrow, dan Growpal bahkan sebelum mereka semua terdaftar OJK, dan sampai sekarang dana saya aman-aman saja. Di sisi lain, P2P yang sudah terdaftar seperti Crowde dan Modalku malah menimbulkan banyak sakit kepala kepada para lender mereka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.