Sudah Sering Investasi, Tapi Nyesel Ikutan yang Satu Ini!

Seperti yang sudah diketahui bahwa saya berinvestasi di banyak instrumen. Mulai dari jenis investasi low risk hingga high risk sudah pernah saya coba. Namun dari sekian banyak investasi yang saya miliki, tidak ada yang membuat saya menyesal seperti pada investasi yang satu ini.

Bahkan pada investasi bodong pun, rasanya tidak akan sampai menyesal seperti pada investasi ini. Sebab pada investasi bodong asasnya mutlak karena penipuan.

Apa Anda tahu investasinya?

Sebut saja ETF atau Exchange Traded Fund, yang merupakan jenis reksadana yang diperdagangkan di bursa saham. Jenis investasi ini seharusnya memiliki keunggulan lain dibandingkan dengan reksadana pada umumnya. Karena cenderung membutuhkan waktu beberapa hari dalam proses pencairannya.

Namun, ETF sendiri justru identik seperti saham pada umumnya yang bisa diperdagangkan di jam operasional bursa dan transaksinya tergolong instan selama ada yang melakukan jual beli.

Kenapa Saya Harus Menyesal?

Beberapa waktu lalu, saya mencoba membeli beberapa produk ETF di salah satu sekuritas. Saya membeli berbagai macam ETF dengan asumsi ingin mempelajari pola dan melihat imbal hasil yang dapat saya terima nantinya. Akan tetapi, investasi di sini justru berujung kekecewaan.

Padahal sejauh ini, investasi yang paling banyak saya miliki adalah reksadana. Bisa dibilang, saya nge-fans terhadap investasi ini. Atas dasar itu pula, saya tertarik untuk mencoba berinvestasi pada ETF yang notabene di luar negeri lebih laku. Selain itu, juga telah menjadi instrumen yang umum karena memiliki keunggulan-keunggulan tertentu, dan performanya di atas reksadana.

Namun, kendala utama yang saya rasakan terhadap ETF yang ada di Indonesia ini ialah likuiditasnya yang cukup parah. Faktor penyebab hal ini terjadi ialah karena di Indonesia belum banyak yang berinvestasi di ETF. sehingga ketika akan melakukan transaksi, saya kesulitan jual karena sangat sedikit yang berinvestasi di Exchange Traded Fund ini.

Bagaimana Cara Kerja Exchange Traded Fund?

Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa ETF memiliki karakteristik yang dapat diperdagangkan di pasar saham, yang mana menunjukan bahwa ETF sangat terpengaruh oleh supply & demand, juga bid & ask.

ETF berbeda dengan reksadana biasa, di mana harga reksadana sudah ditentukan berdasarkan NAV (net asset value) dan kajian kustodian. Dengan hal itu, berarti kita dapat mencairkan sesuai NAV dan sudah dipastikan order-nya akan diambil oleh manajer investasi. Sebab jika kita menjual namun tidak diproses, maka pihak manajer investasi yang akan bertanggung jawab dan dikenai sanksi. Sedangkan pada ETF, jika tidak ada yang membeli ketika melakukan order, maka tidak ada jaminan bagi user ETF ini dalam pengambilan order yang dilakukan.

Memang, hal ini sama dengan cara kerja saham yang jika kita menjual saham dengan harga tertentu dan tidak terjual, maka tidak ada yang menjadi jaminan. ETF pun memiliki risiko yang sama tingginya dengan saham. Hal ini dikuatkan ketika harga ETF saya sudah lebih tinggi dari harga beli, tetapi tidak ada yang langsung membeli.

Sekalipun ada yang membeli, selisih atau spread-nya sangat tinggi sehingga nilai jualnya justru terjun bebas dan tetap berada di bawah harga beli. Ini terjadi jika saya menjual pada detik yang sama. Hal inilah yang membuat saya menyesal membeli instrumen investasi ini dan hal-hal tersebut baru saya sadari setelah saya merasakan langsung risikonya.

Apakah ETF Masih Berpeluang untuk Investasi?

Sebagai pemakluman, volume partisipan saham di Indonesia memang relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Sehingga jika volume pada sektor saham saja investornya masih rendah, wajar saja jika ETF jauh lebih rendah lagi.

Tetapi dengan alasan tersebut, saya tetap tidak merekomendasikan investasi pada ETF. Meskipun bisa dibilang hal ini seperti lingkaran setan, yang mana jika kita tidak mengikuti ETF, maka market ETF pun akan sulit berkembang. Namun sebagai seorang investor, kita juga harus lebih jeli terhadap peluang dan risiko pada setiap instrumen investasi yang kita miliki.

Jika memang produk tersebut belum layak untuk dijadikan instrumen investasi pilihan karena adanya risiko-risiko tersebut, maka Anda bisa menghindarinya dan tidak memaksakan. Karena masih banyak instrumen investasi bagus yang dapat dijadikan pilihan seperti reksadana normal, saham langsung, bonds dan sebagainya. Intinya, untuk ETF ini tidak saya rekomendasikan dan saya sendiri cukup menyesal.

Adrian Siaril
Adrian Siaril

The boss

Articles: 599

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.