A shining Day-Date replica watch is a luxury model to add stylish sophistication to any wardrobe. A newly-established and popular fake watch with a replica rolex yellow gold bracelet and white dial, this outstanding collector's piece will show you a new and fresh scene.
Beranda » Gejala Penyakit P2P Lending
medical stethoscope with red paper heart on white surface

Gejala Penyakit P2P Lending

Setelah sebuah webinar kemarin, banyak yang tanya kepada saya

  1. P2P apa saja yang saya berhasil exit sebelum tutup
  2. kenapa saya bisa keluar tepat waktu dari P2P Lending yang tutup.

Akan saya jawab disini. Untuk pertanyaan nomor satu yaitu Crowde, Cashwagon, dan Danalaut. Perlu saya klarifikasi bahwa:

  1. Crowde masih beroperasi sampai sekarang, namun meninggalkan banyak ‘korban‘ sehingga sekarang hanya mau berurusan dengan lender institusi saja. Saya berhasil exit sebelum menjadi salah satu ‘korban’ nya.
  2. Cashwagon masih beroperasi namun menutup akses lender. Proses pengembalian dana lender berjalan cukup lancar. Saya berhasil exit sebelum proses tersebut.
  3. Hanya Danalaut yang nasibnya ga jelas, dan saya juga berhasil exit sebelum website nya menghilang.

Untuk pertanyaan nomor dua akan kita bahas di tulisan ini.

Berhasil atau tidaknya kita ‘kabur sebelum bencana’, sebenarnya bukan cuma berdasarkan hoki saja. Kalau boleh sedikit cerita, justru ramalan kelahiran saya itu bilang kalau saya itu orangnya kurang hoki, terbukti bahwa saya di saham dan crypto juga kurang beruntung, returnnya pas-pasan dibandingkan dengan teman-teman saya yang cuan lebar dari 2 pasar tersebut.

Tapi terlepas dari hoki atau tidak, sebenarnya ada beberapa faktor yang kita bisa pakai untuk merasakan apakah suatu P2P Lending mulai bermasalah atau tidak. Nah disini saya akan jelaskan beberapa.

Yang pertama, jelas kualitas customer service.

Kalau pelayanan ke konsumen itu buruk, misalnya sulit dihubungi, balasnya lama, telfon tidak diangkat, email tidak dibalas, tidak tersedia Whatsapp atau live chat, itu sudah berarti tanda-tanda buruk, karena kalau misalnya business itu masih sustainable, masih mau pelihara customer, pasti yang namanya customer service itu diutamakan.

Faktor ini adalah yang menyelamatkan saya dari Crowde

Kedua, dari kepribadian management, entah sebagai tim atau individual

Bilamana management suatu p2p lending, entah itu pemilik, pemegang saham, komisaris, atau direksi:

  • tidak pernah muncul ke publik
  • menolak diajak diskusi atau wawancara
  • tidak pernah mengadakan webinar atau berpartisipasi pada event
  • tidak pernah melakukan press release

kemungkinan besar ada sesuatu yang disembunyikan. Namanya management pasti sibuk, tapi sibuk urus perusahaan, dan salah satu tugas mengurus perusahaan itu adalah keterbukaan informasi ke publik dan edukasi tentang perusahaannya.

Kalau memang tidak ada yang disembunyikan, pasti mereka akan welcome-welcome saja menerima komunikasi dari kita.

Tanda-tanda yang ketiga, penyesuaian rate yang tidak wajar.

Turun atau naik rate itu sebenarnya ok, karena itu dilakukan untuk menyesuaikan keseimbangan antara dana Lender dan dana yang di ajukan oleh Borrower. Seperti yang sudah saya bilang, harus terjadi keseimbangan antara keduanya.

Kalau kebanyakan Lender tidak ada Borrower, uangnya nganggur. Kalau kebanyakan Borrower tidak ada Lender itu juga repot bagi penyelenggara karena mereka harus mendanai pakai uang pribadi.

Jadi naik turun rate itu wajar, untuk “mengusir halus Lender” atau mengundang lebih banyak Lender datang. Tapi penyesuaian yang wajar itu menurut saya dibawah 5%. Kalau suatu rate naik atau turun lebih dari 5%, apalagi kalau sudah menyentuh angka 2 digit (10% keatas), itu tanda-tanda yang kurang baik.

Gejala ini adalah yang ‘menyelamatkan’ saya dari Cashwagon, dimana ratenya turun drastis sekali, dari belasan persen atau bahkan 20% turun ke 4% lalu berapa bulan kemudian setelah penurunan rate mereka berhenti beroperasi.

Lalu faktor selanjutnya adalah ketersediaan pinjaman.

Ada 2 jenis masalah atas ketersediaan pinjaman.

Yang pertama bila memang banyak pinjaman baru, namun pinjaman barunya cepat terpenuhi. Kalau ini meskipun menyebalkan untuk lender (berebutan dan kehilangan retur), namun sebenarnya gejala positif yang berarti penyelenggaranya terus bertumbuh.

atau

karena tidak pernah ada pinjaman baru yang muncul. Nah kalau yang kedua ini, ini berarti tanda-tanda yang kurang bagus. Ini adalah gejala yang menyelamatkan saya, ketika saya exit dari Danalaut.

Danalaut itu selama berbulan-bulan tidak pernah ada proyek pendanaan baru, dan saya memang perhatikan proyek terakhir yang muncul apa namanya, supaya jangan sampai saya salah mengidentifikasi gejala kedua (yang negatif) dengan gejala pertama (yang positif).

Dalam p2p lending, borrower lebih penting dari lender. Mata pencaharian penyelenggara datangnya dari borrower yang meminjam, bukan lender yang mendanai. Jadi kekurangan lender bukanlah gejala yang buruk, namun kekurangan borrower adalah gejala yang sangat buruk

P2P Lending kalau tidak ada yang meminjam, berarti tidak ada mata pencahariannya. Percuma Lender banyak yang masuk, tapi tidak aja yang meminjam.

Berarti penyelenggara tidak bisa dapat spread sama sekali, alias incomenya nol. Kalau seperti itu sudah dipastikan kurang bagus tanda-tandanya.

Promo hanya untuk konsumen baru dan program referral berlebihan

Sebenarnya ini mirip dengan karakteristik bisnis MLM, dimana uang member baru atau investor baru dipakai untuk menutupi keuntungan dan penarikan dana member lama.

Gejala ini tidak selalu menunjukan tanda-tanda yang buruk, karena ada juga P2P Lending yang masih baru, yang masih sehat, dan mengandalkan strategi ini. Tentunya untuk mengaet lebih banyak Lender, dan untuk publikasi. Hal tersebut wajar untuk dilakukan.

Tetapi kalau terus-menerus dilakukan, tidak berhenti-berhenti bahkan menawarkan hadiah atau cashback yang jumlahnya sangat besar, itu perlu diwaspadai. Apalagi kalau promo hanya untuk Lender baru saja.

Brand-brand besar meskipun sering mengadakan promo yang lebih menarik bagi pengguna baru, mereka juga mengadakan promo untuk pengguna setia (lama). Hal ini dilakukan untuk menjaga keduanya, karena meskipun customer baru penting untuk kelangsungan bisnis, namun existing customer tentu tidak kalah penting.

‘Berlebihan’ memang merupakan istilah yang ambigu, dan saya tidak bisa menyebutkan angka atau persentase sebagai batas wajar. Namun dapat dipikirkan secara sehat saja: Kita bisa cari tahu informasi mengenai berapa banyak bunga yang akan dikenakan pada Borrower dan berapa bunga yang akan anda dapat sebagai Lender. Selisih dari perhitungan bunga tersebut akan masuk ke “kantong” penyelenggara (spread and provision)

Dari situ, kita bisa mengira-ngira. Contohnya spread 7%, berapa persen yang di bagi untuk melaksanakan promosi? Misalkan 2% untuk promosi, hal tersebut masih dapat diterima. Tetapi kalau sudah mencapai 5%, hal tersebut sudah tidak wajar.

Masalah teknis yang tak kunjung diperbaiki

Selanjutnya adalah terkait masalah teknis yang tak kunjung diperbaiki. Ini juga salah satu gejala yang menyelamatkan saya dari Crowde (selain gejala customer service) dan Danalaut (selain gejala tidak adanya pendanaan).

Di layanan digital apapun, kendala teknis pasti ada dan akan terjadi. Hal tersebut karena adanya upgrade system atau pembaharuan coding. Wajar saja, tetapi kita juga harus melihat, seberapa cepat masalah dapat diselesaikan. Jika dalam 1 hari masalah dapat diselesaikan itu termasuk kategori cepat. Jika 1 minggu masalah dapat diselesaikan itu masih ok juga. Namun jika sampai berbulan-bulan tidak diperbaiki, maka itu bukanlah tanda-tanda yang bagus. Dapat dikatakan mereka sudah tidak dapat membayar tim IT, atau infrastruktur, maupun programmer untuk melakukan pembaharuan.

Dalam kasus Crowde maupun Danalaut, masalah teknis yang bermunculan saat itu adalah kendala login, penarikan dana, dan bug halaman 404.

Minim inovasi dan pengembangan produk

Untuk gejala terakhir adalah minimnya inovasi dan pengembangan produk. Sepertinya untuk kasus ini tidak hanya berlaku untuk P2P Lending tetapi untuk semua bisnis. Bisnis apapun yang stagnan, tidak pernah release produk baru, tidak ada pengembangan produk baru dan tidak pernah memberikan kejutan-kejutan untuk penggunanya bisa jadi malas berinovasi, atau memang tidak punya uang untuk inovasi.

Untuk perusahaan “malas” inovasi, ini umum ditemukan dibisnis-bisnis yang “kebarat-baratan”, contoh Whatsapp, Tinder, dan Snapchat yang selama bertahun-tahun tidak melakukan inovasi karena lebih mementingkan stabilitas. Lain halnya pada bisnis asia yang cenderung berlomba-lomba untuk mengembangkan fitur (bandingkan game Shadowverse dan Hearthstone).

Karena kita berada di Indonesia yang merupakan Asia, dan berkaca dari produk-produk lokal seperti Gojek dan Bukalapak yang setiap bulannya rilis fitur baru, maka saya rasa kultur inovasi cukup mendarah daging dalam kepemimpinan perusahaan disini.

Turnover karyawan tinggi – banyak yang keluar

Ini juga gejala penyakit yang tidak hanya berlaku untuk perusahaan p2p lending. Karyawan yang resign atau dipecat massal menandakan beberapa hal yang kurang baik:

  • Iklim kerja yang kurang kondusif sehingga menimbulkan stres
  • Kemungkinan ada hak nya yang tidak bisa dibayarkan karena perusahaan sedang kesulitan
  • Perusahaan mengurangi beban operasional dengan melakukan efisiensi
  • Banyak karyawan yang tidak bisa mencapai target – dan hal ini biasanya menandakan bahwa perusahaan mulai panik karena kehilangan penghasilan

Perlu diperhatikan, kalau setelah karyawan keluar lalu ada penggantinya, biasanya masih ok. Namun kalau justru secara total jumlah karyawannya berkurang, maka boleh jadi kekhawatiran.

LOOKING FOR ENGLISH CONTENT?

Except for the literature, all my Bahasa contents are translator-friendly, so you can summon the might of Google Translate below.

HUBUNGI SAYA

asiaril@ymail.com

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang menerbitkan, menyiarkan, menulis ulang, atau menyebarkan konten situs ini tanpa izin tertulis dari pemilik blog ini (Adrian Siaril)

Isi blog ini bukan ajakan investasi dan bukan saran profesional. Saya tidak memiliki kualifikasi apapun, jadi jangan mudah percaya dengan omongan saya.

KODE REFERRAL

Akseleran: AKSLADRIA13403
ALAMI: ASIARI
Allianz Smart Poin: rvam2zmw
Ajaib : asia625
Amartha: IL035033
Asetku:WVQXQ
BCA Credit Card (Kartu Kredit BCA): ADRIA0002117
Bibit: ucleiaf
Bizhare: ASA8KHDU

Bmoney: REF-KRJI0
Bukalapak: BAMBANGRAHARJA13YJ
By.u: Klik link disamping atau masukkan BYADRI8439991
Canva: klik link disamping
Cashbac: adr01ak
Catchplay: langsung klik link tersebut
Crowdo: U051549
Crowde: FNYTMZK
DANA: bltuDi
danaIN: 12552
Danamart: asiaril

Deposito BPR by Komunal: AS2333
DNA PRO: ADRIANSI0512
EA-50 : ASIAR8548
Easycash: WRo7Rsw
Ebay.blanja.com: 25CN5E949CBD
E-mas: 9D3CEDUY
Esta Kapital: ZTVINT
Fahrenheit – Lotus International: adriansiaril
Fazzcard: 36baeb7a01
FIN888: adriansi0512
Flip: SHIA6755
Fore Coffee: 5BA015
Fundtastic: FUN10287
Gradana: AS0302191555
Getplus: DWNXM6GDM
Halofina: AIE74C
Hangry!: ADRINALD
iGrow: IGWSIA1980
Indogold: 98532
Investree: LJGZ3
Invisee: @AS0e99d
Jackhammer Co (via TADA): langsung klik link disamping
Jenius: $asiaril
Jurnal: ADRIA21895 atau klik link disamping
Kapital Boost: BAT6M2
Kaspro: E57u7c
KoinWorks: 62507
Koingold by Koinworks: KG-62507
Komunal: 1CE8460
Lakuemas: adrian2128
Levi’s VIP Indonesia: 31A8KL2
Lotus International – Fahrenheit: adriansiaril
Mekar: ADRIA2476
Modalku: jdq73oc9
Modal Rakyat:AS1817506638
NYALA: klik link disamping
OCBC NISP One Mobile: klik link disamping
OY: langsung klik link disamping
Pegadaian: PDS4ED81
Pluang: ADRI667294
Qoala Plus: XM3KSRAL
Raiz Invest (Indonesia): MDA2P7
Shopback: us3h2G
Shopee: ASIAR252
SmartX: asiaril
Sweet Escape : 1FSRH
Tamasia: MIK97TR
Tanamduit: ADRIA00INH7
Talenta: talenta641
Tanifund: ADRR20
Tiktok: A729133701
Tokopedia: TPADR8548
Tunaiku: SASIARIL
Uangme: 7627
Yesdok: ADRIANS1U
Yukk: asia48