asetku

Kontroversi P2P Lending Asetku

Tulisan ini adalah follow up dari review Asetku. Asetku adalah satu-satunya yang memiliki dua ‘review’ di blog ini karena terlalu banyak yang harus dibahas dan memiliki banyak kontroversi, sehingga hadir tulisan ini sebagai bahasan tambahan.

Saya ingat benar nasihat dari Panji Pragiwaksono saat saya mengikuti salah satu stand-up comedy beliau. Dia bilang, bisnis yang sukses itu harus seperti buah Durian, 50% populasi benci sekali, 50% nya suka sekali. Saya rasa di dunia P2P lending, filosofi ini berhasil diterapkan oleh Asetku.

Asetku selalu menjadi target polemik dua kubu yang sama-sama fanatik. Ada beberapa orang yang tanpa alasan dan tanpa tujuan tidak berhenti – hentinya membeberkan kejelekan Asetku, mulai dari mengkaitkan laporan keuangan Akulaku dengan keamanan Asetku, sampai menyebarkan kecurigaan bahwa Asetku tidak lain adalah skema ponzi yang jelas-jelas tidak mungkin, berhubung Asetku sudah tergabung AFPI dan terdaftar OJK. Lucunya, kebanyakan orang golongan ini justru tidak mendapatkan manfaat finansial apapun dari negatifitas Asetku. Mereka bukan staf P2P lending lain atau korban Asetku ataupun Akulaku, pokoknya mereka senang saja liat Asetku ditinggalkan.

Di sisi lain, ada golongan yang di cap “Diehard Fans Asetku“, (DFA) suatu istilah yang diberikan untuk orang-orang yang mereka klaim “belum menyadari risiko Asetku”. Istilah di dunia agama mungkin “mereka yang belum ‘enlightened‘”. Golongan ini menikmati Asetku dan menganggap Asetku memang oke-oke saja. Selama nothing bad happens, why think bad? Kadang-kadang golongan ini malah terlalu bias dan mengabaikan fakta apapun tentang negatifitas Asetku.

Golongan manakah saya? Sebagai pengamat industri fintech dan reviewer yang berusaha objektif, saya berusaha tidak menjadi keduanya, meskipun banyak yang menuduh saya ada di golongan kedua karena memiliki mayoritas portfolio di Asetku, meskipun faktanya saya juga punya banyak portfolio di Danamart, Koinworks, Danain, Mekar, Amartha. Daftar lengkap portfolio saya bisa ditinjau disini.

Namun dalam tulisan ini, saya akan sepenuhnya berpihak pada DFA dan menjabarkan kritik kritik terhadap Asetku yang menurut saya diluar akal sehat.

Produk baru Asetku, Flexi+ itu illegal karena memiliki tenor fleksibel

Model tenor fleksibel ini sudah lebih dulu diterapkan oleh Easycash semenjak hampir 2 tahun, dan sudah saya tanyakan ke OJK dan mereka bilang model ini sah-sah saja. Tidak ada yang salah, jadi kenapa harus disalah-salahin?

Kalau memang semua investasi yang bersifat fleksibel itu illegal, berarti Flexi Saver nya Jenius ilegal dong? Berarti reksadana pasar uang Tokopedia ilegal dong?

Fleksibilitas itu ada harganya, yaitu return. Apabila anda perhatikan, deposito yang tidak mengenakan pinalti pencairan juga cenderung memiliki retur yang jauh lebih rendah, misalnya bank BCA. Hal ini normal dan bisa dicapai melalui manajemen risiko ilmu aktuaria, dimana retur diserap lebih banyak oleh pihak pengelola uang untuk mengantisipasi pencairan dana yang dilakukan secara tidak terduga oleh nasabah.

Asetku Itu Ponzi, karena Tenor Peminjam dan Pendanaan Ga Cocok!

Di Danamart, Mekar, Koinworks, Easycash, Uangme semua menyediakan model investasi yang tenor investasinya tidak sesuai dengan peminjam kok. Kok bisa? Ya kenapa ngga bisa? Kan dana peminjam bisa dialokasikan sesuai kebutuhan dan bahkan dibantu oleh kecerdasan buatan. Belum lagi bila ada peminjam yang memang di ‘reserve‘ khusus untuk kebutuhan tertentu.

Misalnya, di Danamart untuk program VIP harus menyediakan standby fund sejumlah tertentu untuk durasi 1 tahun penuh, padahal di Danamart tidak pernah ada tuh peminjam yang tenornya 1 tahun, adanya 3 bulan, 4 bulan, 18 bulan, dll. Dana anda selama setahun tersebut ya diputar putar di tenor yang berbeda – beda.

Saya juga baru ikutan program special Robo di Koinworks untuk tenor 1 bulan dengan fixed return 11%, padahal kalau anda memperhatikan daftar pinjaman di Koinworks selama sebulan terakhir, jelas-jelas tidak ada peminjam dengan tenor 1 bulan sama sekali.

Di Mekar ada program dengan durasi 3 s/d 6 bulan, padahal kalau lihat daftar peminjamnya hanya ada tenor 11 doang, karena peminjam tenor pendek memang tidak dipublikasikan. Mekar juga memiliki program compounding 12 dan 24 bulan, padahal tidak ada peminjam dengan dua tenor tersebut.

Saya juga mendapat informasi bahwa Amartha pernah menawarkan program compounding dimana kita menitipkan sejumlah dana dalam waktu tertentu untuk diputar secara otomatis di pinjaman yang tersedia.

Intinya, apa salahnya jika tenor investasi kita tidak cocok dengan tenor peminjamnya? Ini bukan masalah kita kok, ini urusan penyelenggaranya yang mengelola uang kita. Anggap saja anda beli reksadana: memangnya kalau anda beli reksadana, anda bisa perintah manajer investasinya untuk masuk saham apa, kapan belinya, kapan jualnya, dan lain-lain?

Peminjam Asetku itu Fiktif, Karena Identitasnya Disembunyikan!

Sudah menjadi aturan resmi OJK dan AFPI bahwa identitas peminjam p2p lending memang harus disembunyikan, kecuali dalam kejadian khusus misalnya seperti mediasi antar borrower-lender atau pengecualian khusus seperti yang diberikan kepada PinjamanGo atau Mekar.

Jadi Asetku tidak melanggar apa-apa di aspek ini. Malahan Asetku terlalu banyak melakukan perubahan dalam waktu singkat karena terlalu banyak mendengarkan masukan orang-orang, misalnya:

  1. Dulu kita tidak bisa melihat sama sekali uang kita akan dialokasikan ke berapa orang, sekarang sudah bisa
  2. Dulu nama peminjam di enkripsi sehingga hurufnya acak, lalu sekarang enkripsi sudah dibuka karena dikritik kurang transparan, meskipun sebagian namanya memang disensor
  3. Nomor KTP dulu tidak ada, lalu sekarang dijabarkan sebagian angkanya untuk meningkatkan transparansi

Kendati demikian masih ada saja yang bilang Asetku kurang transparan dan malah minta nomor KTP dan nama lengkap tidak disensor, ditambah pajang foto selfie si peminjamnya. Bukankah ini malah sama saja menyuruh Asetku melanggar aturan yang sudah diteken oleh otoritas?

Asetku Mau Bangkrut Lho, Akulaku di Mintos di Suspend

Ini memang fakta yang benar. Akulaku di Mintos (marketplace P2P lending internasional) sedang bermasalah sejak Maret karena banyak pinjamannya yang macet. Mereka berkata karena PSBB di Indonesia, menghalangi tim kolektor mereka untuk menagih hutang di lapangan sehingga banyak pinjaman yang tidak tertagih. Sampai disini masih benar.

Yang tidak benar adalah berkata bahwa Asetku ikut-ikutan akan bermasalah gara-gara Akulaku di Mintos di suspend. Apakah anda lupa Akulaku dan Asetku ini dua entity yang berbeda? Apakah anda tidak tahu bahwa borrower yang ada di Asetku klasifikasi risikonya berbeda total dengan yang ada di Mintos? Justru di Asetku kita mendapatkan pinjaman yang tingkat risikonya rendah, sedangkan yang jelek-jelek ‘dilempar’ ke Mintos untuk diambil investor Asing. Bunga yang ditawarkan di Mintos juga jauh lebih rendah, karena secara ilmu aktuaria mereka sudah memperhitungkan tingkat risiko yang lebih tinggi berarti harus menjanjikan retur yang lebih rendah, soalnya di Mintos mereka harus buyback pinjaman bila terjadi gagal bayar, mirip cara kerja dana provisi Koinworks, jadi jelas Akulaku harus mencadangkan sebagian bunganya untuk buyback guarantee ini.

Kalau memang Asetku mau bangkrut atau mulai bermasalah, kenapa RM ya masih belum dipecat-pecatin? RM Asetku jarang sekali ada yang keluar atau dipecat, malah nambah terus-terusan. Padahal RM ini jelas bukan staf yang memiliki fungsi esensial. Kalau ada masalah finansial, sudah jelas RM jadi target pertama untuk efisiensi. Oleh karena itu saya menyarankan agar menjaga hubungan baik dengan RM anda, supaya anda bisa mengendus-ngendus bila memang Asetku mulai bermasalah.

Banyak yang mengkritik poin ini karena bilang saya kontradiktif, di review Asetku saya berkata bahwa pinjaman di Asetku berasal dari Akulaku. Mungkin mereka asal baca tulisan ini hanya untuk kelihatan sok pintar, tanpa memperhatikan detail diatas dimana saya sudah menjelaskan kalau peminjam Akulaku yang dipajang di Asetku memiliki klasifikasi risiko yang berbeda dengan Mintos.

Hal ini bahkan belum mempertimbangkan bahwa kedua perusahaan tersebut memiliki laporan keuangan yang berbeda dan struktur manajemen yang berbeda, dimana arus kas satu perusahaan tidak mempengaruhi yang lainnya. Selain itu, perlu kita ingat kembali masalah likuiditas Akulaku di Mintos adalah masalah keterlambatan penagihan akibat terbatasnya gerakan tenaga lapangan Akulaku. Hal ini belum membuktikan adanya lonjakan risiko gagal bayar dari segi si borrowernya.

Staco Insurance Asuransi Kecil, Dananya Cuma Cukup Nalangin 10 lender

Memang benar, kalau lihat laporan keuangan Staco Insurance, aset lancar perusahaan ini kurang oke (230 milyar). Kalau semua pinjaman di Asetku gagal bayar, dilikuidasi pun tidak cukup menalangi uang semua Lender Asetku. Anggap saja lender VIP mendanai 2 milyar per pinjaman, berarti aset lancar Staco Insurance hanya bisa menalangi sekitar 11 VIP lender, belum termasuk lender ‘kecil’ lainnya. Tapi bukan gitu cara kerja asuransi.

Asuransi itu juga mengasuransikan dirinya sendiri, alias melakukan reasuransi, Apalagi untuk asuransi kecil seperti Staco Mandiri, justru saya yakin sangat mengandalkan puluhan reasuransi untuk mengimbangi risiko asuransi kredit yang mereka berikan pada Asetku.

Ada yang malah bilang gini: “Asetku itu pilih Staco Insurance karena asuransi besar lain ga ada yang mau sama Asetku, kan tinggi risiko”. Coba anda pikirkan, kalau anda memang ‘perusahaan kecil’ seperti Staco Insurance, yang tidak mempunyai ‘cash to burn‘, anda lebih memilih klien yang kemungkinkan merugikan anda (banyak claim). atau klien yang justru low risk karena tidak akan banyak claim? Tentu yang kedua bukan? Apa mungkin justru Staco Insurance yang cuma punya standby cash 2 milyar berani menalangi Asetku yang dananya ratusan milyar kalau memang Asetku tinggi risiko? Ngga kan?

Memang kita harus menyadari bahwa Staco Insurance dibeli oleh induk Asetku yaitu Akulaku, jadi mungkin ada perjanjian khusus diantara mereka, dan reasuransi bukan berarti perusahaan asuransi aman 100%. Asuransi sekuat apapun dengan banyak reasuransi juga bisa tumbang kalau ada mismanagement, misalnya Jiwasraya. Tapi kita tidak bisa semerta merta menganalisa kemampuan bayar klaim suatu perusahaan asuransi hanya berdasarkan aset lancarnya saja.

Asetku Cuma Nabung Dosa, Ga Ada Dampak Sosial

Kalau ini memang sudah tidak bisa dibantah, mau gimanapun caranya. Semenjak awal P2P lending lahir memang ada dua jenis pinjaman yaitu produktif dan konsumtif. Membandingkan keduanya bagai membandingkan kucing dan anjing karena serba berbeda. Kalau anda memang fanatik di produktif, maka silakan nikmati retur yang lebih rendah dan sisanya menjadi pahala di surga.

Tapi anda perlu sadar tidak semua orang seperti anda, banyak yang hanya mementingkan dua hal yaitu retur dan keamanan uang mereka. Dampak sosial yang anda bangga-banggakan belum tentu penting untuk semua orang, misalnya adik saya.

Kalau memang anda mau bicara dampak sosial, lupakah anda kalau Asetku menyumbangkan 1% dari total pendanaan campaign untuk menanggulangi virus Corona? Dan disaat perusahaan lain sibuk melakukan PHK massal, Asetku masih lancar membayar gaji karyawan mereka dan malah tetap memberikan bonus penjualan kepada RM mereka.

Tidak tepat juga berkata bahwa pinjaman konsumtif 100% hedonisme, karena justru ada yang meminjam uang untuk membeli hp agar bisa dagang pulsa, membeli mesin cuci agar buka jasa laundry, atau bahkan benar-benar kepepet perlu uang kebutuhan mendesak.

Satu hal yang jelas: Asetku tidak syariah. Kalau anda memang perlu investasi syariah maka perlu melirik iGrow, Danasyariah, atau Ammana.

Asetku itu Palsu, Masa P2P Lending Lain Kena Dampak Corona, Asetku Tidak

Just because we don’t see it, doesn’t mean it’s not there. Kata siapa Asetku tidak terkena masalah Corona? Asetku sudah menghilangkan tenor panjang dan mengurangi persentase retur sejak terjadi PSBB. Ini perubahan yang justru cukup signifikan, bila dibandingkan dengan P2P lending lain yang malah tidak ada perubahan lain seperti Akseleran, Danamart, iGrow, dan banyak lainnya.

Berbeda dengan P2P lending model produktif dimana kita bisa memilih sendiri peminjam yang ingin kita danai, P2P lending model konsumtif secara otomatis menyebarkan dana kita ke berbagai peminjam, jadi wajar saja kita tidak melihat banyak perubahan di aplikasi Asetku dan P2P lending konsumtif lainnya seperti Uangme, Easycash, dan Cashwagon, karena perubahannya terjadi di belakang. Kendati demikian, semua P2P lending konsumtif tersebut secara kompak menurunkan retur yang ditawarkan, dan yang terparah adalah Cashwagon.

TKB90 Asetku Palsu, Mana Mungkin 100% Terus

Saya juga yakin ada peminjam di Asetku yang pernah gagal bayar atau telat bayar, tapi anda harus menelan fakta super menyakitkan bahwa TKB90 untuk sisi investor dan peminjam memang berbeda! Hal ini sudah dikonfirmasi oleh Cashwagon, Mekar (salah satu P2P lending tertua Indonesia) , dan bahkan OJK. Bila ada peminjam yang gagal bayar namun investor nya tetap mendapatkan pengembalian dana tepat waktu, maka hal tersebut tidak dihitung sebagai TKB90 yang ditampilkan untuk investor!

Setiap P2P lending punya cara menangani pinjaman macet, mulai dari asuransi kredit, dana provisi, write-off, restrukturisasi, dan lain-lain. Bila ada pinjaman yang bermasalah, P2P lending memang berhak melakukan salah satu solusi diatas sehingga pinjaman tersebut tidak berkontribusi negatif pada angka TKB90.

Jadi angka TKB90 Asetku itu asli, berbeda dengan Crowde yang jelas-jelas palsu (dibuktikan melalui crowdsourcing data komunitas). Dan memang pasti ada kok peminjam Asetku yang gagal bayar atau telat bayar, tapi tidak berdampak pada kita selaku investor.

Asetku Itu Antek Asing, Mending Mendanai Produk Lokal

Kalau masalah ini memang tidak bisa saya bantah juga, bahwa Asetku kalau ditelusuri garis kepemilikannya ya memang ada kepemilikan asing. Namun perlu disadari juga bahwa p2p lending lain, yang ‘sangat lokal’ sekalipun, banyak yang mendapat suntikan dana dari venture capital asing. Sulit mencari p2p lending Indonesia yang masih 100% bootstrap alias belum disuntik asing.

Selain itu, kita juga harus mengakui dampak positif yang telah dibawa Asetku ke Indonesia: dana yang mengucur segar atas akuisisi perusahaan lokal, lapangan kerja berlimpah yang terbuka, serta pergerakan roda ekonomi lewat pinjaman mikro.

Asetku itu cuma bakar duit sekarang, kita lihat saja sampai kapan dia bertahan

Berdasarkan data dari Asetku, pada tahun 2020 mereka melakukan pencairan dana (disburse) sebesar 8 triliun, sedangkan total disburse sejak awal berdiri sampai sekarang adalah 14 triliun. Hal ini berarti justru di tahun 2020, tahun dimana kita sedang krisis ekonomi, Asetku malah melakukan disburse lebih besar daripada total disburse mereka di tahun-tahun sebelumnya. Dengan asumsi bahwa tingkat gagal bayar mereka dipertahankan atau tidak meningkat signifikan, tentu hal ini berarti bahwa pemasukan mereka justru bertambah, bukan berkurang.

Informasi ‘orang dalam’ juga mengatakan bahwa Asetku justru sedang melakukan rekruitmen besar-besaran untuk meningkatkan jumlah RM (relationship manager) menjadi 2 kali lipat, dari 98 ke 200 orang. Menurut saya justru ini tanda-tanda ‘kelebihan uang’, karena disaat perusahaan lain mengurangi tenaga kerja, ini malah nambah terus. Sumber saya yang lain juga mengatakan bahwa sebenarnya RM Asetku di tahun 2020 hampir tidak pernah ada yang berhasil memenuhi ‘target bulanan’, karena banyak investor yang mengurangi porsi investasi di Asetku (termasuk saya). Hal ini berarti sebenarnya mayoritas dari peminjam di Asetku belum mendapatkan dana dari lender Asetku, karena ada ketimpangan antara jumlah peminjam dan jumlah pendana.

Kesimpulan

Saya ga menyuruh anda investasi di Asetku, dan ga ada yang nyuruh juga. Komisi referral dari Asetku menyedihkan banget untuk saya, jadi kalaupun saya mau meraup komisi referral lewat tulisan, mending saya promosiin yang komisinya lebih oke seperti Akseleran atau Uangme.

Tujuan saya membuat tulisan ini hanya meluruskan fakta dan (semoga) membuat anda semakin pintar. Kepercayaan pada industri P2P lending harus dijaga secara kolektif. Satu bermasalah, maka satu industri terkena dampaknya ramai-ramai. Apabila anda merasa alasan tersebut terlalu mengada-ngada dan sebenarnya ada ‘keuntungan’ lain yang saya dapatkan dari artikel ini, maka anda benar kok: kunjungan ke blog saya meningkat drastis karena artikel ini, dan hal itu membuat saya senang.

Saya juga ingin menyampaikan bahwa orang yang paling banyak omong belum tentu orang yang paling benar, termasuk sayapun omongannya belum tentu benar. Bahkan sampai ada istilah “the loudest man in the room is the weakest one”. Seseorang yang layak memberi wejangan justru dicari-cari meskipun diam seribu bahasa, bukan malah menyebarkan informasi yang menimbulkan kegaduhan (fearmongering). Jangan juga menganggap orang yang super banyak duit itu pasti benar, karena merekapun juga hanya manusia yang suka beropini dan suka menduga-dugaa. Sifat suka menduga-duga menurut saya memang nempel dan inherent ke jiwa seorang investor, karena kalau tidak spekulasi, gimana mau untung?

Cheers, dan jangan baper atau ngambek. Bila anda perlu klarifikasi atau informasi lebih lanjut, saya siap berdialog mewakili baik Asetku maupun pembencinya, karena bagaimanapun saya berusaha se objektif mungkin sesuai prinsip blog ini.

90 thoughts on “Kontroversi P2P Lending Asetku”

  1. fadjrin wira perdana

    wah akhirnya guru kita sama mas, pak Doddy Prayogo. nggak bisa terlalu benci asetku karena model P2P lendingnya yang diluar kebiasaan tapi tidak bisa juga fanatik karena inovasi pendanaannya

    1. Betul pak. Asetku pasti ada risiko. Investasi tanpa risiko hanya ada di dunia mimpi. Kita harus realistik. Tapi tidak bisa dipungkiri juga sampai sekarang performa asetku masih memuaskan banyak orang.

        1. Advice apa nih pak? Apa yang pak Doddy sampaikan itu memang benar sih. Hukum high risk high return adalah hukum alam yang gabisa dibantah, jadi memang sebenernya semua p2p lending menjanjikan retur menggiurkan tp risikonya juga lebih tinggi. Namun saya berpacu pada inovasi setiap p2p lending yang membiarkan diri mereka menanggung risikonya, ketimbang lender yang menanggung. Contohnya asuransi kredit dan dana provisi yang melindungi modal pokok kita. Saya sarankan untuk p2p lending selalu pilih penyelenggara yang memiliki proteksi seperti itu. Contohnya banyak: koinworks, mekar, asetku, komunal, akseleran, danain, amartha, dan hampir semua yang sudah besar besar

    1. Betul kak arief. Meskipun pada kenyataannya ada gagal bayar atau telat bayar, namun bila si penyelenggara intervensi sehingga di sisi investor tidak macet, maka tkb90 berhak tetap ditulis 100 persen. Ini sebenernya abu abu sih ga ada tertulis resmi di aturan pojk, tp di prakteknya seperti ini.

  2. Tulisan yang sangat menarik. Apakah sampai detik ini review ini masih relevan bang Adrian?
    Mohon update nya ??

    1. Halo mas Agung. Sejauh ini Asetku sendiri sih belum ada masalah ya meskipun untuk Akulaku nya memang masih di suspend di mintos. Saya rasa masih fair untuk bilang ini relevan, tapi disclaimer on juga ya karena bisa saja besok mendadak situasinya berubah. Saya sih masih ada porto aktif di asetku tp senantiasa menganjurkan semua org untuk sebar dana seluas mungkin.

    1. Mungkin maksudnya total pinjaman selama ini 14t, outstanding sekarang 1.4t gitu kan ya? Justru menurutku angka tersebut menunjukkan disbursement yang menurun dan makin kecil. Kalau ngobrol sama rm nya sih karena jumlah uang lender juga menurun, akibat banyak yg takut lending saat masalah ekonomi seperti ini.

      1. maaf typo kak, maksudnya total pinjaman 8.4T, tpi yang outstanding 1.4T,
        concernku kalau misalnya gagal bayarnya cukup banyak bisa langsung bangkrupt gitu, di tambahkan lagi sepertinya asetku ini mengurangi pinjaman jangka pendek contohnya pinjaman 10 hari nampaknya sudah gk ada ya ? seakan2 ingin memperlama uang yang disimpan di sana. Kalau menurut pandangan kak asiaril gmna ya ?

        1. Total pinjaman 8.4 t itu artinya yang sudah di disburse selama januari 2020 sd juli 2020. Yang skrg posisi nunggak yang 1.4 t. 7t nya uda lunas.

          Soal pinjaman 10 hari sebenernya kalo dicek dulu itu memang dicocokkannya ke peminjam dengan tenor lebih panjang, jadi itu sebenernya memang produk promosi aja untuk menarik para lender.

          Kalau saya sih melihatnya sebenernya ini malah growth ya krn total disbursement asetku totalnya 14t. Berarti di 2020 aja total disburse dia (8t) melebihi total disburse dia di tahun2 sebelumnya (6T). Kalau tingkat gagal bayarnya dia bisa maintain seperti 2019 berarti harusnya dia makin cuan dong bukan makin rugi. Tapi ya untuk tingkat gagal bayar 2020 atau di masa depan memang gabisa kita prediksi karena dia ga disclose datanya juga.

          Insider tips aja: asetku lagi recruitment besar besaran, ini mgkn justru tanda2 kelebihan duit (?)

          1. Sama sama pak. Saya jg perlu banyak belajar kok. Dan bagaimanapun saya tidak bilang asetku risikonya nihil ya. Risiko tetap ada, makanya sebaiknya kita tetap diversifikasi ke p2p dan aset lain

          2. Tau posisi nunggak 1,4 t dari mana bang asiaril? Saya merasa harusnya platform p2p jangan hanya menampilkan tkb90 aja, harusnya juga default rate. Kita juga ingin tahu situasi perusahaan p2p bagaimana

          3. Kan ada datanya kak di aplikasi asetku. Total outstanding vs total disbursement. Menurut aturan ojk itu default kalo ud macet dalam 90 hari, jd sebenernya tkb90 sudah mewakili default rate. Masalahnya tkb90 menggunakan total outstanding sebagai faktor pembagi, sehingga kalo disbursement meningkat otomatis angka tkb90 terlihat lebih manis. Menurut saya supaya lebih akurat harusnya yang dilihat frekuensi disburse dan frekuensi default, sehingga nominal rupiah dikeluarkan dr rumus

          4. Maaf, kalau saya salah pengertian mohon dikoreksi

            Tkb90 asetku bisa 100 persen karena asetku dapat menyelesaikan seluruh pinjaman ke lender maksimal 90 hari sejak jatuh tempo, maka tkb90 nya 100 persen.
            Nah yang saya heran kenapa platformp2p tidak menampilkan saja tingkat gagal bayar borrower/default rate/NPL. Kalau hanya menampilkan tingkat gagal bayar ke *investor*/lender ya bisa saja diakali dengan dana menyediakan dana provisi sebanyak-banyaknya. Padahal bisa jadi dibalik itu banyak borrower yang menunggak pembayaran utang nya.

          5. Sebenernya menurut standar ojk, tkb90 itu ya memang berdasarkan data borrower kak, namun seperti yang kakak sampaikan, untuk beberapa p2p tkb90 nya selalu 100 persen krn “ditutupi” dana provisi. Sehingga ada perbedaan tkb90 lender dan borrower. Hal ini memang masih jd kekurangan dr regulasi

  3. Om jadi tertarik buat nyoba asetku, berarti ini kemungkinan besar bakalan Aman dong sampe duit yang dibakar abis ya kan ?
    Kyk unicorn lain yg sudah bertahun tahun bakar duit

    Btw, pernah coba di P2P lending danasyariah kah om, menurut om gmn ?
    Katanya dia danai proyek properti yang sudah Ada pembelinya Dan sudah pakai agunan property itu sendiri, apakah Aman ?
    Terimakasih

    1. Betul.menurut saya sih seperti itu. Saya pantau terus kondisi perusahaan nya. Apakah ada pemecatan atau ekspansi, dan juga saya ada beberapa insider yang saya cukup percaya (untuk sekarang). Kalau ada tanda2 kemunduran ya cabut aja langsung. Toh tenor pinjamannya pendek2. Dana syariah saya uda register tp belum pernah taruh uang. Kalo denger dari testimoni teman teman sih memang lebih ok daripada syariah lainnya seperti Ammana

  4. Saya bingung om. RM nya sendiri ngaku target bulanan enga terkejar karena lender pada ketakutan di 2020 ini, lalu rekrutmen besar2an RM, artinya kelebihan duit? Sebenarnya ini omzet turun tapi bakar duit untuk biaya marketing donk? Tepatnya bakar duit bukan kelebihan duit?

    1. target RM ga kena = dana lender kurang = underfunded, alias funding mayoritas pakai uang sendiri. Rekruit RM untuk mengurangi porsi dana sendiri dan menghimpun lebih banyak dana lender sehingga duit sendiri bisa diputer di tempat lain. More like from profit to more profit. Bakar duit, iya, tapi bukan rugi.

  5. Asetku baru launching tenor yang lebih panjang dengan bunga menggiurkan. Cuma masih takut dengan risikonya. Apakah ada update/informasi terakhir tentang ASETKU? thanks

  6. Pak saya ada tenor berjalan, 5 hari lagi jatuh tempo, bunga nya menggiurkan, apakah p2p ini memberikan bunga segitu wajar apa gmna ya ?

  7. Mari boleh dipakai kode referral Asetku saya WVQXQ biar dapat Gift pack welcome voucher :))
    Saya sendiri sudah pakai asetku dari tahun 2019, penjelasan yg diberikan kakk asiaril memang real sebagaimana adanya :D. Sukses terus kak

  8. Bagaimana caranya mencari nilai TKB90 yang menunjukkan gagal bayar pihak peminjam? Nilai itu penting untuk melihat kemampuan perusahaan memilih peminjam.

    Saya rasa nilai 100 tapi abu-abu seperti yang dipakai sekarang tidak cukup memberi rasa aman, karena bisa saja gagal bayarnya luar biasa banyak karena kurang selektif dan saat ini kemampuan menalangi pengembalian sudah kritis.

    1. Tkb90 memang menilainya dr sisi lender pak jadi misalnya ada yang gagal bayar tapi lender masih terima ya berhak ga mengurangi tkb90

      Untuk audit tkb90 sih komitmen dari ojk untuk menggunakan pusdafil / Fdc

  9. Sekarang di asetku untuk pendanaan hanya bisa pakai Virtual Account Mandiri ya?
    Kok dari aplikasi saya coba2 ganti pakai virtual account bank lain, gak berubah ya, tetap jadi VA Mandiri!
    Untuk call center asetku sekarang tidak bisa dihubungi selama PSBB ini ya?
    Ada info kah?

    1. Hm? Bisa kok saya bayar pakai bca dan mandiri ganti berganti ga pernah ada masalah. Untuk cs mereka sedang work from home jadi gabisa via telepon hanya via email saja.

      Btw, kalau mau tanya2 coba hubungi rm saja dari live chat aplikasi

  10. Mungkin saya termasuk DFA, tp jujur saya sedikit khawatir bila Asetku tumbuh secepat ini di dunia P2P, jauh meninggalkan P2P produktif krn pandemi. Banyak kerugian utk lender/borrower kl terjadi praktek monopoli.

    Yah setidaknya kl buka youtube, cari Asetku, yg nongol teratas selalu bad review Asetku
    Makasih haters Asetku…we need you(not joking)

    1. Setuju pak Herman. Kompetisi memang selalu menguntungkan pengguna, jadi jika ada yang unggul sendiri berpotensi malah mundur kebelakang karena tidak ada motivasi ‘menjadi lebih baik’.

      Ada pepatah yang bilang “bad press or good press, both are publicity”, jadi memang betul sebenarnya para Asetku haters yang berjaya membuat Asetku makin eksis, karena p2p lending lain yang gapunya haters malah ga pernah se eksis Asetku

      1. Ini kebetulan atau si mbak influencer ini baca komen saya trus kena trigger, 2 hari kemudian keluar pesan ^moral^ ke asetku lagi.

        Sudah lihat postingan IG beliau? Gimana menurut bapak? Dia diendorse akselaran atau malah asetku yg main trik bisnis ala duren?

        1. Saya yakin Akseleran ga seperti itu sih. Saya kenal dekat dengan akseleran dan banyak pemain lain, ga ada satupun yang main bayar2 influencer untuk jatuhin brand lain.

          Saya rasa cici cantik tersebut memang gasuka aja dengan Asetku, dan ya sah sah aja. Kalau membaca postingan beliau saya tidak melihat ada sesuatu yang salah. Isinya fakta yang sebenarnya dan tidak ada data palsu.

          Hanya saja ya cukup disayangkan kenapa dia harus serang merk, mengingat banyak p2p lain sejenis, dan mengkampanyekan bahwa consumptive loan itu jahat, padahal memang dibutuhkan di indonesia.

  11. Bagus banget perspektif yang dihadirkan di dalam tulisan ini. Hampir semua terjawab segala tanya yang selama ini ada dalam benak saya, thanks pak Adrian. Anyway saya sendiri kenal P2P juga dari tulisan di blog ini, dari semua P2P konsumtif yang ada di Indonesia menurut saya di masa pandemi ini Asetku memang salah satu yg masih cukup menjanjikan (bukan bermksd promosi ya).

    Sedikit share, di awal bergabung (Aug 2020) saya sempat pusing juga dengan begitu banyaknya jenis produk yg mereka miliki. Untuk bisa memaksimalkan return dari dana yg saya miliki, sebelum pendanaan saya selalu getol nyobain satu persatu produk di menu aplikasi mobile mrk. Ya sbnrnya tujuannya sederhana utk membandingkan mana sih produk yg paling minim resikonya tapi menguntungkan buat saya hehe..

    Singkat cerita kmdn saya coba untuk mereplikasi perhitungan mereka ke dalam bentuk excel sheet shg tanpa harus capek nyobain satu persatu sebelum mulai pendanaan saya bisa langsung mendapatkan Overview & Perbandingan dari keseluruhan produk yg mrk miliki. Ternyata hasilnya cukup memuaskan bagi saya, ijin share ya pak Adrian biar calon lender Asetku bisa ikut mencoba, mgkn bagi temen2 yang tertarik bisa langsung coba live di https://1drv.ms/x/s!ApgG4A1ikeAbhRSeVdbktf3sUTjk

  12. sy pengguna aktif asetku, masi ada dana mengendap. patokan sy selama ini tkb90, slama masi 100, dana tetap ngendap. walau sy assume tkb90 selalu bisa disetting, argument org2 bahwa di cover insurance stacco jd lumayan aman. setelah dipikirkan lg, sy mulai tidak nyaman dgn struktur asetku. hubungan akulaku(parent) – asetku (anak perusahaan), akulaku (parent) – stacco (anak), dan asetku (anak) – stacco(anak). semuanya masih dalam 1 group/afilisasi under akulaku, which is worrying. triangle saling support. samkok. asetku bisa tkb 100 karena insurance. jika insurance collapse, tkb jebol, investor asetku bnyk yg kabur. jika akulaku default, asetku ama insurance stacco uda pasti jebol karena akulaku is much much bigger. struktur afiliasike 3 itu jg bisa memunculkan ide scam / ponzi. karena duit diputer sesama company. tp sy pretty sure ini bukan ponzi, uda dijelaskan oleh anda, makanya dana sy masi ngendap …

    maybe significant point nya hanya ada 1, asetku harus mati2an make sure tkb90 full 100. trust. jika turun ke 99 aja, maybe semua triangle nya bs collapse, duit kabur.

    compare dengan uangme (dana aktif sy jg ada disana), asuransinya dr 3rd party sinar mas, dan only cover 80pct, sisa 20 dr uangme sendiri. yg secara struktur, promise dll lebih make sense …

      1. Asetku belakangan ini sudah tidak bisa main tenor pendek ya kecuali renewal dr loan sebelumnya, kalau saya perhatikan kuotanya pun berkurang di tenor pendek dari 26m jadi hanya 10m, ada yang tahu kenapa?

  13. Menurut lu ko, di asetku ini tenor brp lama yang resikonya kecil tapi returnnya juga lumayan? Gua udah pake dari 2019 dan sampai sekarang msh aman-aman aja, karena semua tabungan gue disitu dan semoga tetep berjalan lancar sih,
    Dan untuk p2p lending yang bagus juga selain asetku apa lagi ya ko? Karena lu blg harus sebar di p2p lending lainnya kan.
    Thanks ko.

    1. Secara teori ya semuanya sih aman bagi si Asetku nya ya, tapi aman ga untuk keuangan kita? Dalam arti lain, tenor panjang kan berarti likuiditas keuangan pribadi kita berkurang. Ini alasan saya suka tenor pendek di Asetku, bukan karena saya takut Asetku tiba tiba bangkrut dan bawa kabur uang saya, tapi saya takut saya mendadak perlu uang untuk keperluan mendesak. Preposisi unik p2p lending adalah tenor yang pendek dengan bunga menarik, jadi itulah yang saya manfaatkan sebaik-baiknya. untuk p2p lain yang bagus, banyak banget bro. tergantung kamu sukanya yang seperti apa. aku gabisa sebut beberapa nama karena kebutuhan setiap orang beda-beda, jadi perlu tau dulu kamu maunya yang kaya gimana

      1. Thanks jawabannya.
        Sebenarnya gak ada yang spesifik mengenai p2p seperti apa, yang penting sebenarnya mau tabungan saya sekarang ini tidak mengendap saja, dan p2p tersebut memiliki rekam jejak yang baik (seperti asetku TKB90 : 100% dan ada asuransinya)

  14. Akulaku dibacking ama Ant Group yang sekarang viral IPO nya mungkin batal karena kritikan pedas Jack Ma. Kalaupun Asetku default, seharusnya Jack Ma turun tangan ya?

    1. Menurut saya kejauhan sih, kemungkinannya sangat kecil jack ma ngurusin sampe ke level asetku, mengingat grup alibaba anak bisnisnya banyak sekali. Asetku pun setahu saya tidak membentuk porsi signifikan dalam penghasilan ant group secara keseluruhan

  15. Sekarang super banyak komplain dari nasabah akulaku kalau akunnya dibobol hacker, bisa ganti no hp sama sekali tanpa OTP bahkan bisa pencairan KTA asetku ditransfer ke no rekening bank sinarmas atas nama pemilik akun yang ternyata cuma no virtual number. Banyak sekali orang dibobol belasan juta dan akulaku terkesan lepas tangan akan sistemnya yang mudah dibobol dan tetap minta nasabah bayar seperti biasa. Apa ini sudah jadi lampu merah bagi kita sebagai lender asetku?

  16. Monsieugar Daddy

    saya permah menanyakan pertanyaan ini di fitur live chat Asetku & mereka respon dgn jawaban yg terkesan ‘template’
    kalau menurut ka Asiaril, apakah meletakkan SELURUH DANA PENSIUN di Asetku dgn tenor yg lumayan panjang (12mo) & return yg lumayan besar merupakan pilihan tepat? saya paham benar perlunya diversifikasi, namun melihat TKB90 Asetku & demi kemudahan pantauan (karena hanya fokus di 1 p2p lending platform saja), belum terpikirkan bagi saya utk menyebar ke platform p2p lending lainnya; mohon pencerahannya suhu

    1. Bagi saya sih kurang bijak ya menggunakan p2p lending untuk jangka panjang, apalagi untuk pensiun. Karena industri p2p lending masih belum mapan seperti instrumen investasi lainnya.

      Saya pribadi ada pengalaman buruk taruh uang 100rb di tenor 12 bulan Kreditpintar, lalu ketika dia tutup program lendernya, sampai sekarang uang tersebut gajelas kemana. Padahal Kreditpintar sisi borrower masih beroperasi sehat

      1. wah, cukup disayangkan bang pengalamannya.. perkara msh blm matangnya industri p2p lending nampaknya tdk ternafikkan; tp kalau saya lihat, Kredit Pintar ini punya TKP90 100% (apa TKP sama dgn TKB?), tp ko bisa uang 100k bang Asiaril ngga kembali pasca tutup program lender & TKP90 mereka tdk turun sama sekali.

        Apa ini bs jd acuan kalau misal saya taruh dana pensiun (let say 200mio) di Asetku yg punya TKB90 100%, dgn tenor 12mo, itu nanti jg ada resiko duid ngga kembali ya bang? sebelumnya, hatur nuhun utk penjelasannya bang

        1. Entahlah, saya berkali2 menanyakan ke mereka tp selalu diabaikan. Sepertinya sih karena mereka “lupa balikin”, bukan karena gagal bayar. Jadi wajar aja tkb90 selalu 100%

    2. Thanks bgt atas ulasan dan pencerahannya.
      Sptnya akan cb Asetku, saya salah satu lender di Amartha sejak 2017 dan ModalKu.

        1. Masih bagus bagus sejauh ini menurut saya pak.
          Saya pakai pendanaan otomatis, jadi jrg cek, begitu dicek sdh bertambah lumayan saldonya hehe

  17. Memutuskan_Anonim

    hmmm.. apa gak merasa kasihan kalau kita sebegai lender meninjamkan uang kepada borower dari asetku(borower aku laku) yang mana profile dari mereka banyak meminjam dengan niat konsumsi+literasi finansial kurang(mereka jd g sadar ttg kemampuan finansial tapi maksa terima pinjaman bunga tinggi)+kestabilan finansial ngos ngosan?

    lets say startup asetku sudah selesai siklus promosi dan bakar duitnya,sehingga asuransi(yang mana perusahaannya udh di beli sama mereka jadi milik holding company mereka juga) sudah tidak bisa menanggung full dana bila terjadi gagal bayar

    di sisi investor tingkat spekulasi bisa melambung terlalu besar, sudah seperti gambling atau judi sehingga udah mulai meragukan kalau ini di sebut sebagai “investasi” . Dan kalau menang gambling juga, kita investasi secara GA LANGSUNG membiayai budaya konsumtif mereka,bikin orang jadi makin konsumtif, kebiasaan doyan utang dan ujung2 nya merusak perekonomian indonesia kalau asetku atau perusahaan dgn skema bisnis sejenis udah makin gede di indonesia.

    di sisi lain sebagai borower, karena sampai saat (kenyataanya) ini profiling untuk peminjam dan alasan tujuan peminjaman masih buruk, walaupun klaim mereka “kita sudah menyaring para peminjam”. aku laku kenyataanya masih mengijinkan banyak borower yang buruk profilenya untuk meminjam di aku laku (bayangin aja pernah saya lihat interview video, ada peminjam yg sudah terjerat utang dan susah bayar masih aja minjam di aku laku cuman buat beli mainan gtu buat anaknya -__- ).

    sehingga di sisi borower, siap siap saja kalau aku laku akan mengerjar borower dgn profile yg buruk tersebut dengan bunga tinggi,borower akan banyak gagal bayar,dan terjerat lingkaran setan….
    Sudah gagal bayar terus,ga banyak menguntungkan lender pula…..

    kalo udh liar gini mending beajar trading forex aja sekalian,resikonya udah hampir sepadan 🙂

    kalau masih ingin mau pakai asetku silahkan pakai saja,cuman saya sangat tidak menyarankan yah hahaha

    at the end of it, kita harus belajar dari kejatuhan industri P2P lending konsumtif di china. menurut hemat saya, kalau asetku sekarang juga tidak mau merubah total sistemnya biar eksekusi idenya bener lebih baik *di bubarkan saja*.
    Bukanya saya bilang kalau P2P lending konsumtif itu salah, tapi kalau eksekusinya ga bener yah bisa fatal dampak sosialnya,plus nanti jangka pajangnya dapat merusak citra industri P2P lending, bukankah kata penulis”kepercayaan P2P lending harus kita jaga rame-rame”?

    1. Memutuskan_Anonim

      Refrensi Pendapat:
      1.https://www.dw.com/en/chinas-peer-to-peer-lenders-face-crisis-investors-face-ruin/a-47634861
      (btw di artikel ini juga ada komen,kalau di sana, “many P2P [lenders] are doing similar things as loan sharks”)
      2.https://link.springer.com/article/10.1057/s41261-020-00132-2
      (Lessons from the rise and fall of Chinese peer-to-peer lending)
      3.https://www.scmp.com/economy/china-economy/article/3115580/chinas-p2p-purge-leaves-millions-victims-out-cold-losses
      (China’s P2P purge leaves millions of victims out in the cold, with losses in the billions, as concerns of social unrest swirl)

  18. Aku baru tau ternyata ASETKU ada kontroversi begini, kebetulan dari semua portfolio yang paling banyak kebetulan di ASETKU. Kemarin aku baru coba UANGMe yang UX-nya mirip sama ASETKU (plus lihat review Mas juga). Dan kebetulan UANGMe Januari ini baru dapat IZIN OJK.

    Nah saya jadi penasaran Mas, ada gosip-gosip ngga sih ASETKU ini akan mengurus perizinan? Karena kalau melihat mereka terdaftar dari Desember 2019 sedangkan untuk operasional terdaftar kan maksimal satu tahun terus harus mengurus perizinan. Apalagi semenjak beberapa program dihapus di ASETKU, plus memang berburu kuotanya seperti ngejar Flash Sale.

    Mohon pandangannya 🙂

    1. Asetku sudah sejak lama mengurus perizinan kok, tp memang jadi lebih dr 1 tahun karena ojk kan sempat pending gamau terima pendaftaran dan perizinan baru. Kuota abis itu bukan tanda2 bagus ya, artinya overfunded, alias lender jauh lebi bnyk drpd borrower. Ini ga sustain lama2

      1. >> Kuota abis itu bukan tanda2 bagus ya, artinya overfunded, alias lender jauh lebi bnyk drpd borrower. Ini ga sustain lama2 <<

        Oh malah seperti ini ya maksudnya. Wah, kalau gitu harus kembali diversifikasi dan menyebarkan portfolio ke P2P lending lain. Terima kasih penjelasannya Mas ??

  19. Antony Pringgo

    Tulisan menarik tp sangat tidak meyakinkan.
    Terlalu berat sebelah dan memang data mana yg menjelaskan asetku dan akulaku tidak saling terlibat?
    Anda bs bilang begitu krn sudah merasakan hasil imbal dr asetku tapi gak ada sangkalan asetku dan akulaku dananya terpisah pengelolaannya.
    Anda sebagai salah satu investor berarti terlibat jg dalam pendanaan akulaku di mana pinjol yg bunganya saya bilang berbahaya yg lbh kearah pinjaman konsumtif bukan produktif.
    Anda bs bilang asetku adalah good investment, itu oke lha bagus tp sebagai investor tulisan anda saya merasa seperti munafik.

    1. Baik pak terimakasih kritik dan masukannya. Sebenarnya terlibat secara business model, tp tentu sebagai entity yang terpisah secara akta mereka masing2 mengelola dananya tersendiri. Izin akulaku juga marketplace sedangkan asetku p2p lending, beda klaster otoritas. Perlu diingat jg borrower dr akulaku ga semuanya dilempar ke asetku, dan asetku jg ad borrower insitusi skrg.
      Saya tidak deny bahwa p2p produktif lebih minim risiko kok pak, bahkan dana saya kebanyakan di p2p produktif. Jadi saya bingung kenapa bapak sampai menyerang saya secara pribadi dengan kata2 “munafik”
      Data saya bisa salah, maaf kalau sampe menyesatkan.Tapi opini memang bisa saja berbeda. Anda bilang saya bilang asetky bagus karena sudah merasakan imbal hasil, lho berarti ini valid dong dari pengalaman jadi opini? Masa saya review tapi belom nyoba dan merasakan? Bukannya itu justru yang namanya munafik?

  20. Terima kasih. Tulisan yg sangat membantu. Saya pengguna baru asetku. Saya suka karena pendanaan bs 15, 22, 30 hari. Sangat likuid kl ada kebutuhan dadakan.
    P2p lain Yg mirip dengan asetku apa ya? Pendanaan bs 2-4 minggu dgn return yg lumayan.

    1. Sudah pernah cobain yang UangMe (sampai sekarang masih ada di sana). Kalau di UangMe tenornya sih lebih dikit opsinya, hanya ada 21 hari, 30 hari, lantas 3 bulan, dan 4 bulan. Tapi fitur yang saya suka dari UangMe ada pilihan, bunganya ditarik ke bank, tapi pokok utama lanjutin terus. Saya cukup suka sama fitur ini, jadi mirip deposito bulanan aja. Tapi dengan imbalan yang lebih tinggi dari deposito bulanan.

  21. Terima kasih kak untuk tulisannya, bacaan yang menarik dan sangat mudah dipahami. Kebetulan saya baru mau belajar buat investasi p2p (makanya belum terbiasa pakai istilah istilah) nah saya tertarik dengan sedikit informasi diatas yang mengatakan kalau asetku tidak syariah. Nah kalau begitu menurut kak adrian rekomendasi p2p syariah yang punya rekam jejak bagus (kalau ada tkb90:100%), tenor pendek dan ada asuransinya apa ya kak? Mirip asetku tapi yang syariah.
    Terima kasih sebelumnyaa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

LOOKING FOR ENGLISH CONTENT?

Except for the literature, all my Bahasa contents are translator-friendly, so you can summon the might of Google Translate below.

AUTO-TRANSLATE
CATATAN TERPOPULER